Sunday, March 9, 2014

RESENSI “CATATAN SEORANG DEMONSTRAN”



RESENSI “CATATAN SEORANG DEMONSTRAN”
JUDUL  : CATATAN SEORANG DEMONSTRAN
PENULIS                       : SOE HOK GIE
PENERBIT                    :  LP3ES, JAKARTA
TAHUN TERBIT            : APRIL  2011
TEBAL                          :  XXX + 385 HLM. ; 15,5 X 23 CM
ISBN                             :  978-979-3330-33-3
HARGA                        :   RP. 65.000



Dialek Hokkian (Soe Hok Gie) yang lahir pada 17 Desember 1942 ketika perang tengah berkecamuk di Pasifik, adalah salah seorang aktivis Indonesia dan Mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jurusan Sejarah. Gie adalah seorang anak muda yang berpendirian teguh dalam memegang prinsipnya dan rajin mendokumentasikan perjalanan hidupnya dalam buku harianya. Lahir keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan adik kandung Arief Budiman atau Soe Hok Djin, dosen Universitas Kristen Satya Wacana yang juga dikenal vokal dan sekarang berdomisili di Australia. Sebagai bagian dari aktivitas gerakan, Soe Hok Gie juga sempat terlibat sebagai staf redaksi Mahasiswa Indonesia, sebuah koran mingguan yang diterbitkan oleh mahasiswa angkatan 66 di Bandung untuk mengkritik pemerintahan Orde Lama. Hok Gie meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis, di puncak Gunung Semeru akibat menghirup asap beracun gunung tersebut pada 16 Agustus 1969 tepat satu hari sebelum hari ulang tahunya.

Belajar di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia. Universitas tersebut menjadi ajang pertarungan intelektual bagi yang mendukung serta membela Soekarno dan yang menentang Soekarno. Sebagaimana galibnya pada universitas tahun-tahun 1960-an menjadi mahasiswa sering disebut organisasi ekstra universiter, seperti HMI; GMNI; CGMI. Akan tetapi Gie adalah seorang yang tidak berminat memasuki organisasi berbau agama apa pun dan karena itu dia memilih menjadi anggota Gemsos (Gerakan Mahasiswa Sosialis). Gie sadar sepenuhnya bahwa keadaan yang dihadapinya adalah akibat perkembangan di masa lampau yang terus menerus berlangsung, sekarang  dan di masa yang akan datang. Gie adalah seorang cendekiawan ulung yang terpikat pada ide, pemikiran dan terus menerus menggunakan akal pikiranya untuk mengembangkan dan menyajikan ide-ide yang menarik perhatianya. Tulisan-tulisanya menggugah hati para pembaca, menjadikan mereka menyokong sepenuhnya pandangan-pandangan yang dikemukakan atau membenci penulisnya yang berani mengatakan apa yang tidak berani dinyatakan oleh orang lain. Kritikan-kritikanya sangat pedas terhadap segala sesuatu yang menurut anggapanya tidak dapat dibenarkan, tidak wajar. 

Gie mulai menulis catatan harianya antara Desember 1959, Gie membuat catatan harianya sehari dua kali, yakni pada pagi hari dan menjelang tidur sampai terakhir tanggal 16 Desember 1969 ketika Gie tak dapat menulis lagi karena meninggal dalam pendakian di atap pula Jawa (Gunung Semeru). Tepat sebelum kematianya Gie sempat berbicara kepada kakak kandungnya Arief Budiman, Gie berkata: Akhir-akhir ini saya selalu berfikir, apa gunanya saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang yang saya anggap tidak benar dan yang sejenisnya lagi. Makin lama, makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Dan kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi apa sebenarnya yang saya lakukan? Saya ingin menolong rakyat kecil yang tertindas, tapi kalau keadaan tidak berubah, apa gunanya kritik-kritik saya? Apa ini bukan semacam onani yang konyol? Kadang-kadang saya merasa sungguh-sungguh kesepian” keadaan seperti inilah yang membuat Gie meninggalkan Jakarta untuk pergi ke Gunung Semeru sampai kematian menyutubuhinya.

Banyak yang tak percaya Gie meninggal secepat itu, di usia yang masih muda. Tukang kayu di Malang yang sedang membuat peti matinyapun terkejut dan menangis karena yang sedang dia buat adalah peti mati untuk Gie. Ketika ditanya mengapa menangis, tukang kayu tersebut terus menangis dan hanya menjawab Dia orang berani. Sayang dia meninggal”. Hal ini berlanjut saat jenazah Gie dibawa oleh pesawat terbang AURI, dari Malang transit di Yogya dan kemudian ke Yogyakarta. Pilot yang mengemudikan bertanya kepada Arief Budiman apakah jenazah tersebut memang Soe Hok Gie dia membenarkan, pilot tersebut kemudian berkata: Saya kenal namanya. Saya senang membaca karangan-karanganya. Sayang sekali dia meninggal. Dia mungkin bisa berbuat lebih banyak, kalau dia hidup terus”.
 
Kritikan-kritikan pedas Gie terhadap hal yang dia anggap benar membuat Gie dikenal keras, sifat lain Gie bukan hanya Idealis, sejak berumur empat belas tahun dia sudah berfilsafat cinta. Kemudian ketika umurnya makin meningkat menjadi sembilan belas tahun kesimpulan yang sama diberikanya pula dengan ketandasan baru dan kontan: “Cinta = Nafsu”, titik! Namun ini hanya berlangsung sementara, karena lama-lama dia sendiri juga menjadi sangsi. Di catatan harianya dia sempat menulis: Aku kira ada yang disebut cinta yang suci. Tapi itu cemar bila kawin. Akupun telah pernah merasa jatuh simpati dengan orang-orang tertentu, dan aku yakin itu bukan nafsu”. Kisah percintaan Gie terbilang rumit, buntut dari kritik-kritik pedasnya membuat orangtua cewek yang Gie cintai berfikir dua kali akan menjodohkanya denganya, semakin dia mengejar cinta maka semakin jauh pula larinya. Karena dalam rasa putus asa dia sendiri berdendang dimabuk kerinduan dalam kehampaan, seperti yang ada di buku catatanya: ...aku ingin mati disisimu, manisku. Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya. Tentang tujuan hidup yang tak satu syetan pun tahu. Mari sisni sayangku. Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku. Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung. Kita tak pernah menanamkan apa-apa, kita takan kehilangan apa-apa”.

Catatan Seorang Demonstran (CSD) terbagi menjadi delapan bagian, pertama “Soe Hok Gie: Sang Demonstran” yang telah dijelaskan sebelumnya. Kemudian bagian CSD kedua adalah “Masa Anak Kecil”, pada masa ini Gie menghabiskan waktunya untuk bersekolah dan bermain, kegemaranya membaca buku sastra dan sejarah mulai terlihat, wawasanya yang luas membuat dia berbeda dengan teman-teman sejawadnya. Di CSD tertulis pada Sabtu, 8 Februari dia sedang berdebat dengan gurunya tentang apa itu karangan, pengetahuan Gie yang luas membuat dia lancar dan tajam dalam menjawab. Kelas itupun riuh karena gurunya yang sebenarya kurang tahu masalah karangan selalu menyangkal argumen Gie agar tidak malu di depan murid-muridnya yang lain. Sifat kritis Gie terhadap suatu hal yang tak benar memang sudah terasah sejak dini, sampai tanggal 27 September 1961 Gie mulai resmi diterima menjadi mahasiswa dan mengikuti perploncoan, inilah lahirnya seorang aktivis mahasiswa.

Selama menjadi mahasiswa sifat kritis, pengalaman dan wawasan Gie semakin banyak. Keseharianya disibukan dengan membaca buku, menonton film, berdiskusi, bermain dan mencatat keseharianya dalam buku harianya. Kondisi politik nasional pada saat Gie menjadi mahasiswa memang amat sangat kacau, dia mulai mengkritik pejabat-pejabat yang tak pro-rakyat, mengkritik pemerintah yang korup dan memperjuangkan lengsernya orde lama dengan terlibat langsung atau di belakang layar beberapa aksi demonstrasi mahasiswa di Ibukota. Peranan Gie dalam beberapa aksi demonstrasi ini terbilang vital, dia yang bertugas melobi para polisi untuk menjaga para demonstran agar aman dari intervensi luar.

Kondisi perpolitikan kampus pada zaman Gie terbilang kental, sebagai kampus terpandang di Ibukota dan banyaknya organisasi-organisasi ekstra masuk kampus dia menganggap ini bukanlah idealisme mahasiswa lagi melainkan kepentingan-kepentingan yang membuat idealisme mahasiswa tergadaikan. Puncaknya pada pemilihan senat fakultasnya, dia bersama teman-temanya sepakat untuk mendaftar menjadi calon senat, meski bukan Gie yang menjadi calon senat akan tetapi peran dia di balik layar sangat vital yang pada tahun selanjutnya Gie menjabat sebagai senat.

Kesenangan dia terhadap dunia sastra dan sejarah juga ditambah kecintaanya terhadap alam membuat sosok Gie ini kuat, dikala libur dia sering menyempatkan waktunya untuk mendaki gunung bahkan ketika telah menjadi dosen muda. Sebelum kematian menjemputnya satu hal yang mungkin belum diketahui pembaca adalah Soe Hok Gie yang akan berumur 28 tahun itu belum bisa menaiki sepeda motor.

Soe Hok Gie, sosok pemuda yang Idealis dan pintar. Harus mati muda karena menghirup asap beracun di gunung Semeru. Didalam catatan terakhirnya 8 Desember 1969 tertulis bahwa Gie mulai teringat dengan kematian karena  matinya Kiang Fong, sebelum pergi ke semeru dia ingin membuat acara intim bersama Sunarti yang akhirnya tak kesampaian karena Gie telah tiada, mati muda.

“Saya tak mau menjadi pohon bambu, saya ingin menjadi pohon oak yang menantang angin”
  
Bagaimana Pendapat Sobat Bloger ?!
Ada Yang Mau Menambahkan ?!
Behind The Gun @aliahsanID

No comments:

Post a Comment