Friday, February 14, 2020

RESENSI BUKU ORANG GAGAL KARYA OSAMU DAZAI


RESENSI BUKU “ORANG GAGAL” KARYA OSAMU DAZAI



Diterjemahkan dari     :  No Longer Human
Terbitan                       : A New Dirrection Book
Karya                           : Osamu Dazai
Penerjemah                 : Muhammad Al Mukhlishiddin
Editor                          : Ama Achmad
Pemeriksa Aksara       : Aris Rahman P. Putra
Tata Sampul                : HOOK STUDIO
Tata Isi                         : @Kulikata_
Pracetak                      : Kiki
Cetakan                       : Pertama, Januari 2020
Penerbit                      : BASABASI
Jumlah Halaman         : 116
ISBN                             : 978-623-7290-59-9
Harga                          : 37,500


Hello pembaca semua, salam hangat bagi kalian semua. Semoga kalian selalu dalam limpahan sehat dan berkah. Amin. Tentu saya sangat senang dalam beberapa bulan ini dapat membaca banyak buku terlebih dapat meresensinya dan membagikannya ke pembaca semua. Meski saya sadari resensi yang saya buat membosankan dan memakai sudut pandang yang terbilang simpel dan sederhana, saya harap kekurangan saya ini dapat pembaca jadikan pengalaman untuk kemudian dapat diperbaiki saat kalian mencoba untuk meresensi sebuah buku.


Kali ini saya selesai membaca penulis dari negeri Sakura, Osamu Dazai. Mungkin nama tersebut sedikit asing di telinga kalian, pun bagi saya pribadi pada awalnya. Hanya beberapa penulis dari Jepang yang terkenal di Indonesia, seperti Murakami yang karyanya banyak kita temukan di pelbagai took buku indie atau mayor. Saya mendapatkan buku ini di toko buku basabasi, awalnya hanya ingin membeli Ernest Hemingway “Paris Yang Tak Berkesudahan”, saat saya coba scroll kebawah kok dilalah nemu buku ini. Karena penasaran, akhirnya saya beli juga. Praktis Osamu Dazai menjadi koleksi terbaru saya penulis dari negeri Sakura itu.


Osamu Dazai, lahir di Prefektur Aomori, 19 Juni 1909 – meninggal di Mitaka, Tokyo, 13 Juni 1948 pada umur 38 tahun) adalah penulis dari zaman Showa di Jepang. Nama aslinya Tsushima Shūji. Selain dikenal mengarang cerita pendek dan novel dengan gaya autobiografi, Dazai juga pernah menulis naskah sandiwara Shin Hamlet (The New Hamlet) dan dongeng Otogizōshi (Fairy Tales).


Dimulai dari novel perdana pada tahun 1933, novel Gyakkō (Regression) dicalonkan sebagai penerima Penghargaan Akutagawa 1935. Tsugaru, Otogizōshi, Hashire Merosu (Run, Melos!), Shayō (The Setting Sun), dan Ningen Shikkaku (No Longer Human) termasuk di antara adikarya Osamu Dazai. Ketiga karya yang disebut terakhir sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris pada pertengahan 1950-an.


Dazai menulis dengan penuh senda gurau, ironi, kesedihan, hingga penghancuran diri, hingga dikelompokkan bersama Ango Sakaguchi dan Jun Ishikawa sebagai penulis dekaden "angkatan gesaku baru" dan buraiha. Sejak masih di bangku kuliah, Dazai berulang kali mencoba bunuh diri atau bunuh diri bersama (shinjū). Pada 13 Juni 1948, ia tewas bunuh diri bersama Tomie Yamazaki kekasihnya, setelah menenggelamkan diri ke Sungai Tama.


Buku ini terdapat empat bagian, atau lebih tepatnya tiga bagian yang terdiri dari Buku catatan pertama, Buku catatan kedua, Buku catatan ketiga bagian satu dan Buku catatan kedua bagian kedua.


Sesuai dengan judulnya, Osamu Dazai di awal buku menceritakan tentang sosok anggota keluarga yang penuh putus asa dan tidak percaya diri. Tapi jika saya pahami lebih dalam lagi, Osamu Dazai seperti berfilsafat lewat tokoh utama (AKU) dengan banyak mempertanyakan tujuan manusia bekerja apakah untuk hidup atau untuk makan? Mengapa kita harus tersenyum saat bertemu dengan orang lain? Mengapa manusia harus bersandiwara dengan kebahagiaan sedangkan aslinya dia sedang merasa susah? Pertanyaan semacam itu dilemparkan Dazai kepada kita. Keren banget.


Sebelum saya lanjut, saya menemukan ada halaman yang salah. Biasanya daftar isi yang ada di awal halaman, di buku ini malah ada di halaman tujuh. Apa karena saya membeli buku ini Pre Order lantas saya menerima buku reject? Hehe.


Pada Buku Catatan Pertama, tokoh utama yang Osamu Dazai ceritakan ini memiliki kecenderungan melucu, tapi bukan melucu yang biasa. Lahir di keluarga mapan secara ekonomi, menjadikan semua akses kebutuhan keluarga terpenuhi. Kalau kecukupan ekonomi terpenuhi, biasanya akan membuat seseorang tenang. Beda kasus dengan tokoh utama dalam buku ini, apa yang ia rasakan malah sebaliknya. Hobi Bapaknya yang gemar membelikan oleh-oleh untuk anggota keluarga dan kerabat membuatnya bingung saat ditanya menginginkan hadiah apa. Kalau tokoh utama kita ini tidak menjawab, dia khawatir Bapaknya akan marah besar kepadanya. Padahal dia memang tidak menginginkan sesuatu, kalau pun dia menyebut suatu hadiah, itu hanya sandiwaranya saja agar Bapak dan keluarganya senang. Selain itu, tokoh utama kita ini adalah orang yang pendiam, tak ayal dia sering merasa kesepian. Berbeda sekali dengan Abang dan adiknya yang gemar bicara. Demi membuat keluarganya senang, dia sering membuat cerita lucu dan berlaku konyol agar keluarganya tertawa atas ulahnya. Padahal, semua itu lagi-lagi hanya sandiwaranya belaka agar semua orang senang dan dia masih di terima dalam keluarga. Sandiwara tersebut ia lakukan juga di sekolah, banyak guru dan temannya yang menyukainya karena tingkah lucunya itu. Selidik demi selidik, bakat sandiwara itu ia dapatkan dari pelbagai majalah anak yang ia baca.


Yang belum paham, karena sifatnya yang pendiam. Tokoh utama sempat dinodai oleh para pembantunya. Konteks dinodai ini entah pelecehan seksual atau menjadi korban perudungan juga masih belum saya temukan faktanya. Dari sini saya juga mendapatkan pelajaran jika peran orangtua yang salah satunya mengajak ngobrol anak-anaknya meski dalam keadaan sesibuk apapun harus tetap dilakukan. Kalau tidak, si anak terkadang memilih diam karena ketakutan antara mengadukan hal itu atau tidak.


Konflik mulai kentara pada Buku Catatan Kedua. Tokoh utama kita ini yang sudah lulus SMA dan berencana masuk semacam akademi Seni Lukis. Naas keinginannya itu kandas lantaran Bapaknya memaksanya untuk ke universitas dengan harapan kelak ia akan menjadi pegawai negeri. Selama kuliah, tokoh utama ini suka membolos kuliah dan mengikuti kelas seni di daerah setempat. Kebiasannya itu mempertemukannya dengan Masao Horiki, seorang siswa kelas seni yang doyan mabuk, main wanita dan berkunjung ke rumah gadai. Tokoh utama kita yang semual pendiam, penakut jika dalam keramaian, dan suka khawatir berlebihan perlahan hilang lantaran akrab dengan Masao Horiki yang selalu mengajaknya mabuk dan main wanita. Bagi saya pribadi, Buku Catatan Kedua ini sungguh keren, di mana kita diperlihatkan sisi kejam dan bengisnya manusia saat dalam keadaan terjepit secara ekonomi tapi di sisi lain nurani manusia tetap menjadi nomor wahid lantaran tidak tega melihat ketidakadilan.


Bagi pembaca yang belum paham, Osamu Dazai memakai gaya tulisan dalam novel "Orang Gagal" layaknya menulis sebuah autobiografi. Kita serasa di ajak menjadi tokoh "Aku" dalam karakter yang Osamu Dazai tuliskan.


Pada Bab Buku Catatan Ketiga Bagian Satu, tokoh utama kita ini dikeluarkan dari Universitas berkat percobaan bunuh dirinya di Kamakura. Kini ia tinggal dengan Hirame, kenalan Bapaknya dulu waktu menjabat di Parlemen, karena Bapaknya sudah tidak menganggapnya sebagai anaknya lagi. Selama menginap di rumah Hirame, ia bak manusia pesakitan yang aktifitasnya dari bangun sampai tidur hanya di dalam kamar dengan ditemani buku dan majalah bekas.


Kondisinya tak banyak berubah, ia masih suka merokok dan mabuk-mabukan meski tidak memiliki penghasilan. Untung saja kakak lelakinya diam-diam mengirimkan uang bulanan ke Hirame tanpa sepengetahuan Bapaknya agar dapat meringankan beban Hirame selama adiknya menumpang di rumahnya.


Sampai pada suatu kondisi ia bertemu dengan jurnalis perempuan bernama Shizuko yang memiliki perawakan slim dan cantik. Shizuko menggawangi rubrik komik untuk anak-anak di tempatnya bekerja, ia menawari ke tokoh utama untuk mencoba mengirimkan gambar-gambarnya ke redaksi, siapa tahu tembus dan uangnya dapat untuk membeli sake dan rokok. Pada titik inilah ia sudah memiliki penghasilan sendiri, tapi karena sifatnya yang gampang depresi dan cemas itu, ia lampiaskan ke mabuk-mabuk, merokok berat dan main perempuan yang membuat kehidupannya tambah tidak terkontrol dan membuat ia semakin depresi.


Ia beberapa kali pindah rumah, atau lebih tepatnya kabur karena tidak kuasa menahan depresinya. Yang paling lama tentu saat menginap di rumah pegawai Bar, kalau di Bar ia ikut membantu pekerjaan perempuan yang ia tumpangi, sedangkan kalau di rumah hubungan mereka bak suami istri saja. Tapi semua itu hanya berlangsung selama setahun, setelah itu ia berpaling ke perempuan lain. Babak baru di mulai, kini ia menikah dengan penjaga toko rokok bernama Yoshiko. Kegembiraanya karena menikah tentu sangat besar, tapi kengeriannya jauh lebih besar, tidak seperti yang ia bayangkan.


Awal pernikahan yang bahagia hanya berumur jagung, sampai pada suatu siangYoshiko tertangkap sedang selingkuh dengan Horiko, kawannya sendiri. Titik ini yang menjadikan tokoh utama semakin depresi, dia mulai tidak percaya ke istrinya. Malam-malamnya banyak ia habiskan dengan menenggak miras di Bar dekat Kota. Kecanduannya ke alkohol itu membuatnya batuk darah akut, ia sempat ingin mengakhiri hidupnya dengan menelan sebotol penuh obat tidur. Karena kalakuannya itu, ia tidur tiga hari tiga malam sampai istrinya membawanya ke Rumah Sakit.


Bukannya tobat berhenti mengkonsumsi miras, kali ini ia kecanduan morfin yang ia dapatkan dari Apotik. Parahnya, ia juga memadu kasih dengan perempuan tua pengidap polio penjaga apotik tersebut. Sepertinya Osamu Dazai memang membuat karakter ini semakin kuat dengan kesan pemabuk, pecandu dan suka main perempuan.


Akibat kecanduan morfin itu, ia lagi-lagi dilarikan ke Rumah Sakit. Hirame dan Kakak kandungnya berkunjung, ia memberitahukan ke adiknya kalau bapaknya sudah meninggal sebulan lalu karena masalah lambung. Kakaknya memohon agar ia kembali ke kampung saja selama masa rehabilitasi, terbukti dengan ia dibelikan rumah dekat pantai. Rumah baru yang berjarak empat jam dari kampungnya itu, ia tempati dengan seorang pembantu perempuan berumur enam puluh tahun utusan kakaknya. Tapi lagi-lagi, pembantu itu menodai si tokoh utama kita entah berapa puluh kali banyaknya.


Hmm, jelas. Dendam dengan seorang Bapak. Pemabuk, pecandu morfin dan suka main perempuan adalah karakter tokoh utama tokoh dalam buku ini. Ia gagal menjadi seorang suami, gagal lulus dari Universitas, gagal menjadi pelukis dan gagal menjadi manusia.


Sekian terimakasih.
Malang, 14 Februari 2020
Ali Ahsan Al Haris



No comments:

Post a Comment