Wednesday, January 3, 2024

Nuna & Bangun Pagi

Nunda dan Bangun Pagi

Nuna, kini ia berumur tiga tahun. Sebenarnya dia tidak susah tidur cepat di malam hari. Namun, Saya sering balik dari kerja jam 8 malam. Belum lagi saya harus mandi dan makan. Tandas menikmati masakan istri, saya bermain dengannya. Kita berdua ngobrol, mendengar ceritanya tentang tentang Kampung Durian Runtuh dan rekan-rekannya di rumah bermain sepakbola.

Jam 21:30 an, dia harus beranjak ke atas tempat tidur. Saya dan istri setiap hari bergantian membacakannya dongeng atau cergam. Kini dia mulai hafal setiap dongeng yang kami ceritakan padanya, mulai tokoh dan alur cerita. Saat kami membacakan cergam, beberapa kali dia menyela, kenapa setiap hari alur ceritanya berbeda. Saya dan istri saling toleh, kami merasa dia sudah tidak bisa dibohongi. Jika ditanya mengapa ceritanya berbeda, padahal gambarnya sama. Saya hanya menjawab, “Cerita bergambar itu tanpa teks, Papa dan Mama harus berimajinasi”. Entah dia paham atau tidak dengan apa yang kamu maksud.

Saat dia sudah tertidur. Gantian saya dan istri yang ngobrol. Membincangkan hal-hal yang musykil, pekerjaan, tetangga, orang tua dan tagihan mana yang belum dibayar. Ada uangnya tidak.

Bahkan, hampir setiap hari anak saya tidur tengah malam. Mendengar kedua orang tuanya cerita. Mirisnya, ia sering mendapati kedua orang tuanya sibuk dengan handphonenya. Sedangkan ia kami biarkan menggambar dan menulis.

Selesai sholat subuh dan minum kopi buatan istri. Saya duduk di ruang tengah melanjutkan membaca novel yang tiga bulan belum tuntas juga. Parahnya, kini saya menjadikan aktivitas membaca buku sebagai media pengantar tidur. Belum sepuluh halaman, lha kok wes ngimpi.

Jam enam pagi, teriakan-teriakan itu mulai terdengar. Mamanya yang sering membangunkannya. Di momen ini, saya paling suka saat Istriku menggendong Nuna dari kamar dan menaruhnya di atas badanku. Praktis, saya terbangun dan Nuna juga menangis karena masih ingin melanjutkan tidurnya. Setelah itu ia melanjutkan membuat sarapan untuk kami bertiga.

Nuna sudah masuk TPQ pagi dan sore. Ia harus masuk jam tujuh pagi. Nuna sering memberontak karena enggan bangun pagi. Saya, sering pura-pura tidur dan tidak tega memaksa Nuna bangun. Begitu terus terjadi.

Awalnya, Saya dan Istri sempat tidak tega memasukannya ke TPQ pagi. Selain alasan umur dan kurangnya jam tidurnya, tetap saja masuk TPQ namun di kelas sore saja.

Kini ia sudah tiga bulan masuk ke situasi dan lingkungan yang baru, Nuna tampak biasa saja. Dia tidak kelihatan ragu atau malu, ya sesekali dia menangis dan tidak mau berangkat. Nuna seperti menganggap TPQ sebagai tempat bermain baru. Berbeda dengan Ayahnya yang pemalu saat kecil.

Nuna tidak mengenal konsep masuk terlambat dan tepat waktu saat masuk kelas dan ia tidak menyadari saat di Tashih oleh Ustadzahnya, padahal itu yang menentukannya layak naik jilid atau tidak. Dia tahunya setiap hari harus berangkat mengaji dihantar Papanya, duduk di depan dan melantunkan lagu-lagu dari Mbah Nun & Kiai Kanjeng.

Seminggu awal ia mengaji, buku penilaiannya banyak tertulis L minus. Saya dan istri tertawa, ternyata kebahagian itu masuk bukan hanya nilai semata, Nuna mau berangkat mengaji dan tidak menangis saja sudah membuat kita berdua bahagia. Tiga bulan ia mengaji, alhamdulillah ia berkembang cukup baik. Mulai dari mental, sikap, disiplin dan L minus yang semakin jarang tertulis.

Nuna, selamat sekolah ya. Anggap saja itu tempat bermain yang baru. Papa mu berharap kamu dapat menikmatinya dengan bahagia. Seperti ia menikmati kopi hitam ku yang diam-diam diseruput seraya ngumpet agar tidak diketahui Mamanya.

Malang, 3 Januari 2024

No comments:

Post a Comment