Satu Konsep yang Mengubah Cara Saya Melihat Motivasi Kerja
Salah satu bagian paling menarik dari obrolan Mas Sabrang adalah ketika dia mengatakan bahwa saat mencari pekerja, kita tidak cukup hanya melihat kemampuan seseorang. Kita juga perlu memahami keadaan hidupnya. Awalnya terdengar aneh. Apa hubungannya kondisi hidup dengan pekerjaan? Ternyata hubungannya sangat besar.
Menurut Mas Sabrang, secara sederhana manusia bisa berada pada tiga fase hidup yang berbeda.
Pertama, fase bertahan hidup (survival).
Kedua, fase memperbaiki hidup (self-improvement).
Ketiga, fase ingin berkontribusi (contribution).
Ketiga fase ini menghasilkan perilaku yang berbeda. Orang yang sedang berjuang untuk bertahan hidup biasanya memiliki daya juang yang sangat tinggi. Mereka rela melakukan apa saja demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Penolakan, tekanan, target, atau tantangan berat sering kali tidak terlalu menjadi masalah karena fokus utama mereka adalah bertahan. Sebaliknya, orang yang sudah berada pada fase memperbaiki hidup memiliki motivasi yang berbeda. Mereka mulai memikirkan kualitas hidup, kenyamanan, pengembangan diri, dan masa depan. Jika ditempatkan pada pekerjaan yang tidak sesuai dengan fase hidupnya, performanya bisa menurun.
Sementara itu, orang yang berada pada fase kontribusi biasanya sudah tidak terlalu fokus pada dirinya sendiri. Mereka ingin menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar. Mereka ingin meninggalkan dampak, membangun organisasi, atau berkontribusi bagi lingkungan dan masyarakat. Di sinilah kita mulai memahami bahwa tidak semua orang cocok ditempatkan pada posisi yang sama.
Seorang CEO misalnya, tidak cukup hanya memiliki kemampuan teknis. Ia perlu memiliki dorongan untuk berkontribusi. Sebab pekerjaannya bukan lagi sekadar mencari nafkah atau memperbaiki hidup, melainkan menggerakkan banyak orang menuju tujuan yang lebih besar.
Kita Tidak Bisa Memisahkan Kehidupan dan Pekerjaan. Sering kali kita berpikir bahwa kehidupan pribadi dan pekerjaan adalah dua hal yang berbeda. Padahal kenyataannya tidak demikian. Orang yang datang bekerja adalah orang yang sama dengan yang pulang ke rumah.
Motif yang menggerakkan seseorang dalam hidupnya juga akan menggerakkannya dalam pekerjaannya. Karena itu, memahami manusia tidak cukup hanya melihat jabatan, CV, atau hasil tes. kita perlu memahami apa yang sebenarnya menjadi bahan bakar dalam dirinya.
Setiap Orang Memiliki Bahan Bakar yang Berbeda.
Ada orang yang termotivasi oleh uang. Ada yang termotivasi oleh pencapaian. Ada yang termotivasi karena ingin menjadi bagian dari sebuah gerakan yang lebih besar. Tidak ada yang salah dengan semuanya. Masalah sering muncul ketika kita memaksa seseorang bergerak menggunakan bahan bakar yang bukan miliknya.
Bayangkan kita memiliki mesin diesel lalu memaksanya menggunakan bensin. Bukan karena mesinnya buruk, tetapi karena bahan bakarnya tidak cocok. Begitu pula manusia. Ada karyawan yang akan sangat bersemangat ketika diberikan bonus. Ada yang lebih bersemangat ketika diberi kesempatan belajar. Ada yang justru hidup ketika diberi ruang untuk berkarya dan berekspresi.
Jika kita salah memahami motif mereka, maka kita akan terus merasa bahwa orang-orang di sekitar kita sulit digerakkan. Padahal bisa jadi masalahnya bukan pada orangnya, melainkan pada bahan bakar yang kita berikan.
Kenapa Orang Sulit Bertindak?
Mas Sabrang juga menyinggung konsep perilaku manusia yang menarik. Intinya, seseorang akan bertindak ketika dua hal bertemu:
1. Ia memiliki motif yang cukup kuat.
2. Ia memiliki kemampuan atau kemudahan untuk melakukannya.
Jika salah satu tidak ada, tindakan sering kali tidak terjadi. Contohnya sederhana.
Bayangkan ibu kita menelepon saat kita sedang mandi. Motif untuk mengangkat telepon mungkin sangat besar karena yang menelepon adalah ibu kita. Tetapi kemampuan untuk melakukannya rendah karena tangan kita basah dan ada risiko ponsel rusak. Akibatnya, tindakan tidak terjadi. Sebaliknya, jika sesuatu sangat mudah dilakukan tetapi kita tidak memiliki alasan untuk melakukannya, hasilnya tetap sama: kita tidak bergerak.
Karena itu, jika ingin meningkatkan performa diri sendiri maupun orang lain, kita perlu menemukan titik pertemuan antara motivasi dan kemudahan bertindak.
Mengenali Diri Sendiri Adalah Kuncinya
Bagian yang paling saya sukai dari pembahasan ini adalah ketika Mas Sabrang menjelaskan tentang pentingnya mengenali diri sendiri. Mas Sabrang memberi contoh tentang anak-anaknya.
Anak pertama hanya mau belajar jika memiliki ketertarikan terhadap sesuatu. Ketika belajar matematika biasa, ia malas. Tetapi saat diminta menghitung total belanja di marketplace, ia bisa berhitung dengan sangat cepat.
Anak kedua berbeda. Yang penting baginya adalah ekspresi. Selama diberi ruang untuk mengekspresikan diri, ia akan sangat bersemangat.
Dua anak dalam satu rumah, dididik oleh orang tua yang sama, ternyata memiliki bahan bakar yang berbeda. Maka wajar jika pendekatan yang digunakan juga berbeda. Pelajaran pentingnya adalah kita tidak bisa memperlakukan semua orang dengan cara yang sama.
Jangan Terkecoh Oleh Perilaku
Ada satu contoh lucu yang disampaikan Mas Sabrang. Misalnya ada seorang karyawan yang selalu datang paling pagi dan pulang paling malam. Banyak orang langsung menyimpulkan bahwa ia sangat rajin. Bisa jadi benar. Tetapi bisa juga ada alasan lain. Mungkin ia memang sangat mencintai pekerjaannya. Mungkin ia sedang mengejar karier. Mungkin ia sedang mengejar bonus. Atau mungkin, seperti gurauan Mas Sabrang, ia lebih memilih berada di kantor karena suasana rumahnya jauh lebih tidak nyaman.
Perilaku yang sama belum tentu lahir dari motif yang sama. Karena itu, memahami manusia membutuhkan kedalaman yang lebih dari sekadar mengamati perilaku luarnya. Untuk Para Pemimpin dan Pemilik Usaha, jika kita memiliki tim, ada satu pelajaran besar yang layak dibawa pulang dari video ini.
Jangan hanya fokus pada kemampuan orang. Pelajari juga apa yang menggerakkan mereka. Terlebih ketika sebagian besar tenaga kerja saat ini berasal dari generasi Z. Bisa jadi banyak dari mereka tidak lagi berada dalam mode bertahan hidup seperti generasi sebelumnya. Mereka tumbuh dalam kondisi yang berbeda. Kebutuhan dasarnya lebih terpenuhi. Akibatnya, motivasi mereka pun berbeda. Ada yang lebih peduli pada kesehatan mental. Ada yang ingin berkembang. Ada yang ingin menemukan makna. Ada yang ingin menjadi bagian dari perubahan.
Ketika organisasi mampu menghubungkan kebutuhan tersebut dengan pekerjaan yang dilakukan, performa yang muncul sering kali jauh lebih baik daripada sekadar memberikan instruksi.
Bensin dan Setir
Pada akhirnya, Mas Sabrang memberikan analogi yang menurut saya sangat kuat. Setiap orang memiliki bensin. Bensin itu bisa berupa uang, pencapaian, pengakuan, pembelajaran, atau keinginan berkontribusi.
Bensin bukan sesuatu yang perlu dihakimi. Itu hanya sumber energi. Yang lebih penting justru adalah setirnya. Setir adalah akal, kesadaran, dan kemampuan kita mengarahkan energi tersebut menuju tujuan yang baik. Karena pada akhirnya hidup bukan soal seberapa besar bahan bakar yang kita miliki. Melainkan apakah kita memahami bahan bakar itu, lalu mampu mengarahkan kendaraan hidup kita ke tujuan yang benar.
Mungkin itulah makna dari nasihat lama yang sering kita dengar:
"Siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan lebih mudah memahami jalan hidupnya."
Dan mungkin, sebelum berusaha mengubah orang lain, pertanyaan pertama yang perlu kita jawab adalah:
"Sebenarnya, apa bahan bakar yang selama ini menggerakkan saya?”
---
Video lengkapnya bisa anda tonton dengan klik ini
---
Ali Ahsan Al Haris
Malang, 2 Juni 2026

No comments:
Post a Comment