Friday, April 11, 2014

LAPORAN OBSERVASI



ANALISIS MANAJEMEN USAHA DAGANG IKAN PINDANG DI PASAR BARU MERJOSARI LOWOKWARU KOTA MALANG


LAPORAN OBSERVASI
UNTUK MEMENUHI NILAI UJIAN TENGAH SEMESTER
MANAJEMEN AGRIBISNIS PERIKANAN
Yang diampu oleh Bapak Dr. Ir. ANTHON EFANI, MP


Oleh:

NAMA            :           ALI  AHSAN        
KELAS           :           A1









UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
JURUSAN SOSIAL EKONOMI PERIKANAN
APRIL
2014



KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan ini.

Tujuan dari pembuatan laporan ini adalah sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Agribisnis Perikanan (MAP). Laporan ini tidak akan terselesaikan dengan baik tanpa adanya bantuan dari berbagai pihak, diantaranya:
  1. Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunianya.
  2. Orang tua yang telah memberikan dorongan baik moral maupun materiil
  3. Keluarga besar KOMPI UB.
  4. Keluarga besar HIMASEKA FPIK UB
  5. Keluarga besar KOMPAK UB
  6. Keluarga besar Nawak Adventure
  7. Keluarga besar Malang Selatan Rescue
  8. Keluarga besar PMI Kota Malang
  9. Keluarga besar WALHI JATIM
  10. Teman-teman semua yang telah membantu
  11. Bapak Turmudi dkk
  12. Pukat.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis mohon saran dan kritikan yang membangun, semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi Universitas Brawijaya umunya dan Fakultas Perikanan Khususnya. Penulis mohon maaf apabila ada kesalahan dan kekurangan, terimakasih.
Malang, 01 April 2014
 




BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
            Indonesia memiliki kekayaan alam laut yang banyak dan beraneka ragam. Luas perairan laut Indonesia di perkirakan sebesar 5,8 juta km persegi, panjang garis pantai 81.000 km, dan gugusan pulau-pulau sebanyak 17.508 tentu saja berpotensi untuk menghasilkan hasil laut yang jumlahnya cukup besar, yaitu 6,26 juta ton per tahun. Potensi produksi perikanan Indonesia tersebut tergolong cukup besar. Pada tahun 2003 saja, produksi ikan Indonesia mencapai 5,948 juta ton yan menempati posisi keenam setelah Cina, Peru, India, Jepang dan Amerika Serikat.
            Seiring dengan pertumbuhan populasi dunia, konsumsi ikan pun meningkat dari tahun ke tahun. Konsumsi ikan per kapita secara nasional menunjukan kenaikan sebesar 4,61% pada kurun waktu 2002-2003. Mengonsumsi produk perikanan, baik perikanan budidaya maupun perikanan tangkap, sangat bermanfaat untuk kesehatan karena kandungan gizi proteinya tinggi.
            Usaha perikanan hendaknya dikelola secara professional, bukan hanya sebuah usaha sampingan sebatas pemenuhan kebutuhan hidup atau tidak mengacu pada pencapaian target keuntungan (profit oriented). Untuk mencapai target keuntungan, usaha perikanan dijalankan seperti halnya sebuah perusahaan dengan kemampuan manajemen yang baik.
            Pasar Baru Merjosari Malang menjual berbagai jenis ikan, dari yang segar sampai ke olahan. Hal ini menandakan konsumsi warga malang yang secara topografi berada di lereng gunung banyak mengincar produk-produk perikanan untuk mencukupi asupan gizinya. Produk perikanan yang di jualdi pasar merjosari malang beraneka ragam, mulai dari: Baung, Bawal air tawar, gurami, ikan mas, lele, mujair, nila, patin, udang, ikan asin, terasi, tempong dll. Dari beberapa jenis produk perikanan yang dijual di pasar merjosari, ikan pindang menduduki peringakat pertama yang diminati oleh para konsumen.


BAB II
METODE

A. Lokasi / Populasi
            Pasar Merjosari berada ditengah kota Malang, tepatnya di kelurahan Merjosari kecamatan Lowokwaru. Pasar baru merjosari baru di resmikan pada pertengahan ahun 2012, awalnya pasar berlokasi di jalan MT.  HARYONO bersebelahan dengan rumah sakit unisma malang, akan tetapi dipindahkan karena lokasi pasar yang lama di gubah menjadi Mall.
            Sebelah barat pasar baru merjosari malang adalah lapangan merjosari, sebelah timur kampus UIN MALIKI Malang, sebelah utara jalan raya dan sebelah utara adalah jalan joyosuko.
            Pedagang yang saya observasi adalah bapak Turmudi, betempat tinggal di sendang biru, kabupaten Malang.
B. Metode Pengumpulan Data
·         Survey
·         Catatan lapangan
·         Wawancara


BAB III
LAPORAN

Observasi yang saya lakukan secara detil melihat alur usaha dan kegiatan kerja dari bidang usaha dagang ikan pindang ini, mulai dari kegiatan produksi sampai ke proses pemasaranya.
Pada usaha dagang ikan pindang semua lingkup dari produksi hingga distribusi di kuasai penuh oleh orang yang memang telah ahli di bidangnya, Pak Turmudi mempunyai fungsi sebagai pemasar sekaligus pendistribusi dan pengatur keuangan dalam bidang usaha tersebut.
1.      Harga
Ikan pindang yang dijual oleh Turmudi terdiri dari dua jenis ikan, Tongkol dan layur. Jenis harga per jenis ikan  berbeda, ikan pindang tidak dijual persatuan, tetapi perpack. Satu pack berisi antara tiga sampai lima ikan pindang, dimana satu pack ikan pindang jenis tongkol dibandrol dengan harha Rp. 6.000; sedankan untuk pindang jenis layur di jual dengan harha Rp. 4.000-5.000.

2.      Jumlah Tenaga Kerja
Bidang usaha yang cukup efisien ini tidak memiliki jumlah pekerja yang cukup banyak, namun Turmudi memiliki pekerja yang ahli dibidang masing-masing. Dimana pembagiannya sebagai berikut:
ü  Bagian proses produksi dan bahan baku 4 orang
ü  Bagian pembuatan badeng dan packing ikan pindang 3 orang
Sehingga total pekerja pada usaha pindang milik Turmudi hanya memerlukan delapan orag termasuk dirinya, turmudi selain pemilik usaha juga berperan sebagai penjual, sehingga menekan biaya produksi lebih efisien.


1.      Proses produksi ikan pindang
·         Bahan Baku dan Alat
ü  Ikan Layur dan Tongkol
ü  Air
ü  Garam
ü  Pengaduk
ü  Drum
ü  Tali tampar
ü  Kayu bakar
ü  Bahan bakar minyak
·         Proses pembuatan
Secara garis besar, pembuatan ikan pindang adalah sebagai berikut: Ikan yang telah disusun dalam badeng dimasukan ke bak perebusan/drum yang berisi garam mendidih dan direbus kurang lebih dua jam. Setelah itu ikan di angkat dan di tiriskan.

2.      Aspek teknis-ekonomis
Berdasarkan hasil observasi, ada aspek teknis-ekonomis yang tak kalah penting diantaranya:
ü  Biaya transportasi
Biaya ini menyangkut transportasi, baik itu dari lokasi usaha dengan tempat penyedia bahan baku, tempat produksi dan tempat pemasaran.
ü  Sarana jalan
Sarana jalan tidak kalah penting. Bila aspek ini tidak diperhatikan, terkadang dapat menaikan biaya pemasaran atau biaya pengangkut-an sehingga akan terjadi penambahan biaya operasional. Tidak jarang Turmudi harus menanggung biaya yang buncit di karenakan sarana jalan di sendang biru banyak yang berlubang.


ü  Sarana listrik dan irigasi
Listrik sangat diperlukan dalam menjalakan usaha Turmudi. Selain untuk sarana penerangan, listrik diperlukan untuk menjalankan sarana elektronik lain, seperti pompa dan blower. Semenara sarana irigasi mutlak di perlukan, mengingat lokasi tipe usaha Turmudi banyak menggunakan air, terutama pada saat perebusan dan penuncian ikan.
ü  Aspek iklim
Aspek iklim mempengaruhi keberhasilan usaha perikanan. Umumnya bisnis perikanan tergantung dengan faktor alam, dalam usaha Turmudi, curah hujan yang tinggi dapat membuat kualitas ikan pindang-nya rusak pada saat pengangkutan ke pasar.
ü  Aspek agronomis
Cakupan aspek agronomis antara lain topografi, lokasi, jenis tanah, dan kondisi tanah, serta jenis perairan yang berada di lokasi usaha.

3.      Pengendalian produksi perikanan
Pengusaha yang terjun kedalam dunia perikanan wajib untuk mengetahui sifat komoditas ikan. Hal ini sangat bermanfaat bagi pengusaha agar nantinya tidak banyak menemui kesulitan dan tidak menderita kerugian. Sifat-sifat komoditas perikanan pindang yang digeluti Turmudi antara lain.

ü  Musim
Bahan baku ikan pindang yang biasa digunakan Turmudi adalah Tongkol dan layur, jika kedua bahan baku ini sulit di dapat karena cuaca buruk, Turmudi biasa membeli bahan baku di pedagang besar yang mempunyai Coll Storage, hal ini juga berpengaruh pada biaya produksi.
ü  Jarak lkasi usaha ke konsumen
Jara lokasi usaha dari konsumen sangat mempengaruhi harga, turmudi memilih pasar baru merjosari karena jarak yang di tempuh cukup efisien. Setelah subuh Turmudi harus sudah pergi ke pasar agar tidak telat.
ü  Tekstur tubuh ikan pindang
Ikan pindang adalah produk olahan perikanan, hasil rebusan membuat tekstur tubuhnya menjadi kuat. Proses packing juga mempengaruhi kondisi ikan pindang milik Turmudi ini.
ü  Perputaran modal cepat
Turmudi jarang yang namanya mengalami kerugian besar, hal ini karena ketekunanya yang datang di pasar sebelum jam enam pagi, selain itu di pasar merjosari Turmudi memang memonopoli pasar.

4.      Pengangkutan
Pengangkutan merupakan fungsi pertama yang harus diperhatikan. Biasanya, Turmudi menggunakan mobil kap terbuka miliknya untuk di gunakan mengangkut ikan-ikan daganganya ke pasar baru merjosari malang.



5.      Penyimpanan
Ada kalanya ikan tidak dapat langsung dipasarkan oleh Turmudi, entah karena menunggu tirisnya ikan pindang atau tak laku habis. Turmudi biasa menyimpan di almari tempat proses produksinya, sebelum di jual kembali dia akan merebusnya kembali agar Nampak segar untuk menjaga harganya supaya tidak jatuh, akan tetapi konsumen di pasar baru merjosari kebanyakan pintar memilih pindang yang kualitasya masih bagus sehingga memaksa Turmudi harus menurunkan harganya.



1.      Alur distribusi
istribusi ikan pindang milik Turmudi memakai model penyaluran langsung. Produsen ke Konsumen.



1.      Sasaran pemasaran
Konsumen yang dituju Turmudi tentunya adalah masyarakat sekitar kelurahan Merjosari Malang. Stock pindang yang dibawa Turmudi per-harinya sekitar 100 - 250 badeng mengingat banyaknya permintaan.



1.      Persaingan
Persaingan merupakan suatu hal yang wajar dalam bidang usaha. Turmudi adalah satu-satunya pedagang ikan pindang di pasar baru merjosari malang, hal ini membuat Turmudi tidak mempunyai saingan.



1.      Strategi pemasaran
Maksud dari strategi pemasaran adalah suatu tindakan penyesuaian sebagai reaksi terhdap situasi pasar dengan berdasarkan pertimbangan yang wajar. Tinakan-tindakan yang di ambil tersebut merupakan pendekatan terhadap berbagai factor, baik dari luar maupun dalam. Factor luar berdasarkan konsumen yang dituju. Sementara factor dalam berdasarkan produksi yang dihasilkan.
Turmudi menanggapi faktor dalam dengan mengupayakan bahan baku dan proses produksi tetap berjalan secara optimal. Sedangkan untuk faktor luar, Turmudi berusaha untuk dating melebihi jam pasar (kisaran jam 6-10 pagi) dan menyediakan stock khusus untuk para langgananya yang rata-rata berprofesi ibu runah tangga dan pedagang warung.

112. Analisis usaha
·         Biaya investasi (Modal Awal)
a.
Lahan
Rp. .10.000.000.
b.
Ikan
Rp. 5.000.000
c.
Peralatan


-Timbangan
Rp. 90.000

-Drum
Rp. 1. 500.000

-Bambu
Rp. 200.000

-Kayu Bakar
Rp. 1.000.000

-Minyak Gas
Rp. 1.500.000

-Tali Tampar
Rp. 50.000
d.
Bahan


Garam
Rp. 500.000

Air
Rp. 100.000
e.
Kendaraan


-Mobil 1 Buah
Rp. 110. 000.000

-Motor 1 Buah
Rp.  12. 500.000
f.
Handphone
Rp. 150.000

Total investasi
Rp. 142.590.000

 13. Biaya Tetap
a.
Biaya pemeliharaan per tahun
Rp. 2.000.000
b.
Gaji pegawai (7 orang) per bulan
Rp. 3.150.000
c.
Peralatan lain-lain
Rp. 200.000
d.
Pulsa handphone/bulan
Rp. 250.000
e.
Listrik
Rp. 80.000
f.
Transpotasi (Bensin dan Servis)


-Mobil (kisaran Rp. 1.500.000/Bulan)


-Motor (Kisaran Rp. 200.000/Bulan )


Total Biaya Tetap
Rp. 5.380.000
     


















        
314. Biaya variable
a.
Stock ikan/bulan rata-rata 500 Kg
Rp. 3.000.000
b.
Garam/bulan ratarata
Rp. 150.000
c.
Minyak gas/Bulan Rata-rata
Rp. 250.000
d.
Kayu bakar
Rp. 200.000

Total Biaya Variabel
Rp. 3.600.000
 

115 .Total Biaya Produksi (Modal Usaha)
(Biaya Tetap + Biaya Variabel)= Rp. 5.380.000 + Rp. 3.600.000
Rp. 8.980.000

216. Penerimaan
Per Pack IKan Pindang Rp. 7.000
Stock ikan 500 Kg menjadi 1.700 Badeng
(Rp. 7.000 x 1.700 Badeng = 119.000.000)


  17. Keuntungan
Keuntungan = Penerimaan – Total Biaya Produksi
 = Rp. 119.000.000 - Rp. 8.980.000
 = Rp. 110.020.000

218.  Kelayakan Investasi
2.1      Break Event Point
Merupakan perbandingan antara nilai hasil penjualan produksi dengan biaya produksi. Nilai yang diperoleh merupakan titik impas sebuah usaha dan menggambarkan kondisi usaha tidak mengalami keuntungan maupun kerugian.
BEP produksi = Total Biaya = Rp. 8.980.000 = 1283 Pack
                          Harga Jual = Rp. 7.000/Pack



BEP Harga = Total Biaya         = Rp. 8.980.000 = Rp. 17.960
                     Total Produksi    = 500 Kg

Dari perhitungan tersebut menunjukan bahwa titik impas usaha budidaya ikan pindang dicapai pada jumlah produksi sebanyak 1.283 Pack atau harga jual Rp. 17.960
2.2      Return of Investment (ROI)
Return of investment merupakan nilai keuntungan yang diperole pengusaha dari setiap jumlah uang yang diinvestasikan dalam periode waktu tertentu. Pengusaha perlu membuat perhitungan ROI karena sangat bermanfaat, yait pengusaha dapat mengukur tingkat kemampuan usaha dalam mengembalikan modal yang telah ditanamnya. Dengan demikian, analisis ROI dapat digunakan untuk mengukur efisiensi penggunaaan modal dalam perusahaan tersebut.

ROI =  Rp. 110.020.000 (Laba Usaha) x 100 % = 12,2%
           Rp. 8.980.000 (Modal Usaha)

ROI sebesar 12,2% menunjukan bahwa setiap Rp. 100 modal yang ditanam pedagang akan menghasilkan keuntungan sebesar 12,2%.

2.3      Return cost ratio (R/C)
Perhitungan ini lebih ditekankan pada kriteria-kriteria investasi yang pengukuraya diarahkan pada usaha untuk memperbandingkan, mengukur, serta menghitung tingkat penerimaan usaha perikanan. Dengan R/C ini bisa dilihat kelayakan usaha perikanan. Bila nilainya lebih dari 1 berarti usaha tersebut layak untuk dilaksanakan. Semakin kecil rasionya, semakin besar kemungkinan perusahaan menderita kerugian.
R/C = Total Penerimaan = Rp. 119.000.000                          = 13, 25
          Total Biaya               Rp. 8.980.000

Nilai R/C rasio sebesar 13,25 menunjukan bahwa setiap penambahan biaya sebesar Rp. 1.000 maka akan memperoleh tambahan penerimaan sebesar Rp. 13.250. dengan demikian, pada usaha dagang ikan pindang ini layak di usahakan.
 

 
KESIMPULAN

            Meskipun Industri Pengolahan Pindang Masih Bersifat Tradisional, Namun Prospek Pengembanganya cukup menjanjikan. Dapat dilihat dari usaha Turmudi ini, dengan modal yang tak cukup besar dapat kembali secara cepat hanya pada satu bulan, tentunya hal ini disertai dengan aspek manajemen dan pemasaran yang optimal pula.

Semoga bermanfaat, Budayakan Membaca dan Menulis.

       #Go AHead Indonesia
       #Yang Penting Bagiku Adalah Dialoq
       Behind The Gun: @aliahsanID


No comments:

Post a Comment