Tuesday, August 8, 2017

Ular Polos (Puisi)

Sastrawan Jalanan Part. II

Penulis biasa aku sapa dengan panggilan, Bung. Aku sendiri juga tak terlalu faham mengapa panggilan tersebut serasa akrab dengan dirinya, mungkin karena dia lebih senior dari saya dan terlebih lagi penulis sering berpindah pindah kota dan tempat ngopi hanya demi mencari jati diri.
Pernah memang aku berfikiran kalau penulis sedikit gila, memiliki obsesi menjadi idealis sejati di zaman entah berantah seperti ini. Tapi, itu semua bisa saja terjadi, cita-cita besarnya memiliki komunitas yang berisikan para pemuda-pemuda yang ingin mengangkat harkat martabat petani di desanya menjadi tujuan utama si penulis berjejaring dan banyak-banyak silaturahmi.
Sekarang, dengan pekerjaan menjadi juru parkir dia masih berharap suatu saat komunitas yang selama ini dia idam-idakan akan cepat terbentuk dan berkontribusi bagi masyarakat.
Ini adalah puisi kedua yang saya upload, aku tak mengedit naskahnya sama sekali. Aku hanya berhak membaca dan mempublikasi lewat blog sederhanaku ini. semoga kalian yang membaca, dan tentu si penulis semoga Tuhan memberi kesempatan untukmu memberi akses membaca tulisanmu sendiri, dari ratusan puisimu yang sebenarnya enggan untuk kau publikasi.
Salam hormat dariku, Bung.
Ular Polos

Yang
Berkenaan
Dengan
Jalan bawah tanah
Desis   
Malam  hari
Guyur  
Yang  belajar
Memasuki  sunyi hujan
Di  antara
Kuyup
Dan  hawa dingin
Yang  rimbun

Waktu
Menjadi  racun
Racun  
Licin-licin
Di  lipatan keinginan
Kebenaran  berjelma
Perutmu  yang memanjang
Di  dalam perutmu
Terdapat  kisah
Yang  dibalut kulit berbuku
Tersusun  dekatdekat
Apakah  sejarah
Apakah  darah
Dengan  bergeriap
Tubuh  menjalar
Di  kaki mimpi
Yang  
Bersangkutan
Dengan
Suhu
Yang
Setiap  saat berubah
Dalam  dirimu
Ucapkanlah
Rapat-rapat karena;

Suara
Terlanjur  gemar melangkah
Di  siang hari
Dan  memeriksa
Imunitas
Ke  malammu

Bagian  atas tubuhmu
Terlihat  penyok
Menjelang  subuh
Sudahkah  setiap pawang memaku kepalamu
Di  tengah jalan raya kelam aspal
Di  telantar tengah malam
Dengan
Ekormu  yang jerih
Akan
Kamu
Lilit  sendiri
Segala  luka
sebagaimana julurmu
melingkari  darah
lidahmu  mengecap sejarah
Patuklah   


Maret  2014


No comments:

Post a Comment