Wednesday, August 16, 2017

Tanganku & SuratMu

Sastrawan Jalanan Part 6


Selamat petang pembaca, semoga kabar baik menyertai kalian semua. Tak terkecuali yang sedang di rudung masalah, di tolak cintanya, yang bingung selepas yudisium mau ngapain dan tentu yang gagal yudisium semoga ada keberkahan sendiri. Oh iya, tak luput bagi kalian yang mungkin sedang memikirkan judul tugas akhir semoga saja mendapatkan ilham dan keberkahan dalam memakanai proses mengerjakanya nanti.

Tentu bagi pembaca takan faham dengan apa yang aku tulis jika tidak mengikutinya dari awal, toh aku juga sebagai penulis juga bingung memaknai aktifitas konyol ini. secara proses memang aku rasai mendapatkan semangat untuk menulis lagi, namun secara makna aku juga terbawa bingung tulisan ini akan bermuara kemana. Kalau tidak karena si sastrawan jalanan, bisa jadi aku takan memulai untuk menulis lagi, tapi apa daya rasa pertemanan yang sudah menulang sumsum menjadikan hal ini mau tak mau dan harus untuk segera naik upload.

Ditengah kepadatan jadwal dan aktifitas, hehe. Aku belum berkesempatan bertemu dengan penulis puisi-puisi yang begitu melankolis ini. toh kabar benar tidaknya dia ada di Malang juga belum aku ketahui, tapi semoga saja dia selalu dalam lindungan Tuhan.

Ada beberapa kawanku yang mengira jika puisi-puisi ini hasil karyaku sendiri, mereka salah besar karena sejak dulu aku tak berbakat menulis terlebih lagi membuat puisi. Lebih parah dari tanggapan beberapa kawanku adalah, model tulisan ini sengaja aku pakai sebagai kedok untuk menutupi keahlianku dalam menulis puisi, bahahaha. Tentu, tidak sama sekali.

Dari belasan tanggapan, dua diatas tadi adalah hal paling konyol yang sempat aku baca, tapi ya gpp juga. Aku haturkan terimakasih, kok.

Jadi begini lho, rek. Tulisan ini adalah rasa terimakasihku atas anugrah Tuhan yang telah memperkenalkanku dengan manusia yang sedikit edan dalam hal pemikiran, memiliki laku pertapa dalam keramaian dan cenderung suka di hujat atas pemikiran-pemikiran pribadinya. Memiliki hobi membaca buku dari mulai setipis perasan wanita dan setebal kepekaan calon mertua, namun perlu diketahui, banyaknya buku yang ia baca adalah hasil dari pinjaman kawanya semua, serasa cinta tapi tak pernah memiliki bukan.

Pria berambut gondrong pemilik ratusan puisi yang sempat aku curi ini memiliki profesi yang sangat mulia, jadi juru parkir. Pria yang sampai detik ini tak memiliki handphone dan hanya bisa di ajak komunikasi lewat kontak batin semata ini jika bertugas mengendalikan parkiran tak pernah meminta imbalan saat memoderatori maju mundurnya ban mobil dan akan berterimakasih sekali jika imbalanya adalah ucapan terimakasih dan senyuman manja para pelanggan café tempatnya bekerja. Rasa pertemenanku dengan dia muncul saat dia memiliki bakat yang tak mau diketahui oleh orang, sedangkan aku yang berusaha jadi penulis berbakat tapi selalu gagal di tengah jalan, dua alasan itulah yang membuat kami bersepakat secara batin bahwa ini adalah momentum untuk menyerang Negara api.

Hasilnya ya begini, postingan berlabel sastrawan jalanan tak pernah sundul 400 pembaca, rata-rata pada angka 250-280 pembaca. Apa begini susahnya ya jadi agen-agen dunia maya penebar cinta agar semua manusia berdamai betapa indahnya sastra.  Oke sudah ya

Aku cukupkan saja, kalau tulisan ini diteruskan takan bermanfaat lagi. Terutama bagi pembaca yang sedari tadi sudah tak sabar membaca karya apa lagi yang aku publish malam ini. Aku hadirkan dua karanganya Bung Gondrong si pengendali parkiran.

Pertama ada prosa berjudul Tanganku, bagiku karya ini mugkin muncul di saat penulis galau akan kerinduan sosok perempuan idamanya, dari sini aku baru sadar kalau manusia semacam dia bisa naksir lawan jenis, hahaha. Karya kedua berjudul SuratMu, saat aku membacanya teringat kasus penolakan pendirian pabrik semen di Rembang Jawa Tengah, sungguh begitu indah persenggamaan kata per kata yang ia susun. Saya akhiri, selamat membaca. Ali Ahsan Al Haris






Karya 1

Tanganku

Tangan waktu melemparkanku dari tanah dari laut ibu ke tanah ke laut tak menentu. Maka inilah tanganku sendiri: lelaki mabuk dalam sebuah kamar berantakan.

Perempuan dalam kesunyian kertas-kertas. Setiap suara dan bunyi yang diseretnya dari jalanan kemudian diremasnya menjadi kata. Lalu pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan baru berjatuhan darinya. Dan kerja-kerja terus berputar silih berganti mengisi ruang ruang terkutuk.

Tanganku, kau telah dan sedang menjalani ketabahan menyedihkan: kemerdekaan yang harus diraba raba terlebih dahulu di antara banyak kepalsuan yang mesti kau masuki tanpa ampun.

Di antara banyak bibir dan lubang dalam dan dangkal yang kau temui itu ada pernyataan dan makanan dan bangkai dan bau busuk dan limbah dan tubuh rusak mesti pula kau sapa. Tapi bagaimanapun persis setumpukan huruf celaka tak kunjung mendapat bentuknya sebagai prosa paling sederhana saja misalnya, tanganku tetap sabar menunggu banyak kedatangan.

Tanganku berulang kali gemetar kembali bila syaraf-syarafnya terangsang berbagai penerimaan atau penolakan. Tanganku sejenis cinta yang setia namun kasar mencetak tuannya jadi manusia.

Juli 2016  
  

Karya 2

SuratMu
:Tersebab Surat Ibu-Ibu Penghuni Tenda Perjuangan Rembang untuk Seniman Artjog dan Mojok.Co

Setelah ibu ibu terluka berdarah dan berpeluh
Menambal sendiri sobekan tenda mulyanya yang sederhana
Tempat mereka sembahyang dan berdoa tiada putus
Dalam begitu sabar mengetuk hati gerombolan karun
Dan firaun yang maha bebal maha loba  


Setelah ibu ibu mengecor kaki mereka di depan istana
Sebagai cara mereka mengetuk hati gerombolan karun
Dan firaun yang maha bebal dan maha loba itu
Malam ini mereka melayangkan pesan suci
Bagi anak anaknya yang celaka


Dan ArtJog juga Mojok.Co
Dua hayawan berakal bulus tak tahu arah pulang apalagi ini?
Bulan suci bulan yang membuatku jadi tambah ingat puisi
Berjudul Selamat Idul Fitri dari kyai Mustofa Bisri
Puisi yang kemudian membuatku terhenyak setengah mati
Sebab sang penyair berulangkali mengucap selamat idul fitri
Sambil dengan nada satire namun pilu menyayat hati
Meminta maaf tak henti henti
Kepada burung burung dan tumbuhan kepada laut dan mentari
Kepada pemimpin juga rakyat jelata kepada langit juga bumi


Dan ArtJog juga Mojok.Co
Dua hayawan berakal bulus tak tahu arah pulang apalagi ini
Kenapa di bulan penuh rahmat 
Justru keduanya terang terangan menampakkan
Mukanya sebagai penjilat
Ketika seluruh makhluk belajar mengendalikan diri dan keras bergulat
Menghayati arti lapar dan arti maslahat


Atas nama nilai seni dan martabat kebudayaan
Sampai perjuangan kemanusiaan
Dimakannya barang kotor dan menjijikkan itu sekalian

Oh Freeport perusahaan tambang asing musuh seluruh makhluk
Musuh kami tujuh turunan itu malah uangnya rakus mereka embat
Oh Bank Mandiri lembaga keuangan yang baru saja mengucurkan
Dana pinjaman trilyunan kepada PT SG
Untuk memuluskan perusakan alam dan tatanan kehidupan
Masyarakat pegunungan Kendeng dengan pendirian pabrik semen
Malah uangnya rakus mereka embat
Oh ramadhan dua hayawan apalagi ini

Juni 2016


No comments:

Post a Comment