Sunday, January 5, 2020

Banjir dan Cerita-Cerita di Dalamnya

Banjir dan Cerita-Cerita di Dalamnya


Januari 2014, kawan saya bernama Anantara bergegas pamit pulang karena desanya terendam banjir. Kata dia, beberapa anggota keluarga besarnya terpaksa mengungsi ke Masjid dan rumah saudaranya.
Desa kawan saya ini terbelah menjadi dua bagian, kulon kali (Barat sungai) dan wetan kali (Timur sungai). Sedangkan yang terkena banjir bagian wetan kali. Lewat penuturannya, banjir yang melanda desanya itu terparah sepanjang orang tua nya menetap di desa yang (Katanya) dikenal sebagai pusat lumbung padi itu.


Saat masuk batas desa, tampak tanggul jebol yang belakangan diketahui jika jebolnya tanggul yang menghancurkan toko bangunan dan musholla itu, karena ada seorang yang entah iseng atau sengaja mengambil sebuah pusaka untuk dijadikannya jimat. Tentu ini hanya praduga saja, tapi obrolan ini banyak di amini oleh para pelaku spritual kejawen di desa Anantara tinggal.


Sesampainya dirumah, tampak anggota keluarga besarnya yang tinggal di wetan kali mengungsi dirumahnya. Suasana rumahnya menjadi ramai dan menjadi pusat perhatian karena kebetulan juga didapuk menjadi salah satu dapur umum di dekat posko korban banjir.


Kawanku ini sempat mengecek langsung rumah para korban banjir di wetan kali, sungguh parah. Bagi dia ini adalah pengalaman pertama melihat desa yang ia cintai itu dilibas banjir selama 37 tahun dia tinggal. Meski kondisinya tidak separah banjir di Jabodetabek yang ketinggianya mencapai atap rumah, banjir dengan ketinggian yang kisaran 1,7 meter ini sudah cukup membuat para warga desa meninggalkan rumah mereka.


Anantara inisiatif membantu di dapur umum dekat rumahnya, dari jam 2 dinihari dia dengan dua emak-emak mulai masak nasi dan lauk yang nantinya akan dibagikan ke para pengungsi di dekat dapur umum. Begitulah mekanisme yang dirancang Pemdes tempat dia tinggal dan Tim Rescue. "Maksimal jam 6 pagi harus sudah matang", celetuk emak yang bertugas menanak nasi itu. Emak-emak yang bertugas memasak untuk para korban bencana sempat mengeluh karena kekurangan tenaga, mereka berdua setidaknya sehari tiga kali membuat 550 bungkus makanan. Terkadang dibantu oleh Tim Rescue, namun karena kondisi Tim Rescue yang kekurangan personil juga menjadi hambatan tersendiri bagi kedua emak-emak ini. "Kadang ada disini, kadang gak tau kemana, Mas". Tutur seorang emak yang waktu itu sedang membuat bumbu mie goreng.


Proses pembagian logistik ada timnya sendiri, terdiri dari perwakilan posko korban banjir dan di dampingi perwakilan Tim Rescue dan Pemdes. Meski ada perwakilan dari institusi, dalam teknisnya masih saja terjadi adu mulut antara korban banjir dengan tim yang bertugas membagikan logistik. Alasannya beragam, mulai dari tidak mendapatkan jatah, makanan tidak enak dan parahnya. Adu mulut dengan petugas karena mau nambah makan lagi.


"Hal seperti itu sering terjadi, Mas. Setiap pembagian logistik ada saja yang membuat geram dan jengkel. Apa mereka gak tau perjuangan kami memasak untuk mereka semua.", Celetuk Bapak bertubuh tambun perwakilan Pemdes.


"Iyo bener kuwi, Mas. Ancen kake'ane kok wong-wong iku. Opo gak ngerti nek kene kesel opo piye"., Tampak emak yang ikut memasak marah melihat kejadian adu mulut yang terus berulang.


Di sisi lain, saat Anantara berbincang dengan seorang yang berada di posko pengungsian. Katanya sebagian besar para pengungsi di posko tersebut banyak mengeluh karena leletnya distribusi makanan dari dapur umum. "Kami semua kelaparan lho, Mas". Tiba-tiba seorang Bapak tua yang kebetulan nimbrung nyeletuk, "Sampeyan tahu, Mas?. Banjir ini adalah azab dari Allah karena kalahnya calon kepala desa yang rumahnya kulon kali. Dia gak terima kalah, lalu berdoa dan banjir datang ke wetan kali"., Bapak tersebut berbicara dengan muka memerah seakan semua ini adalah salah calon kepala desa yang kalah itu.


"Kasian sekali orang itu, sudah kalah dalam Pilkades. Eh masih saja menjadi korban praduga tak bersalah.", Batinku.



Selepas dari posko, Anantara pulang sambil terkekeh dan membatin. "Di tingkat masyarakat paling kecil saja mereka sudah hobi mencari kambing hitam. Wajar saja jika elit politik di Jekardah sana saling  menyalahkan dan mencari pembenarannya sendiri".

No comments:

Post a Comment