Sunday, April 19, 2020

Penis Mencari Selangkangan


Penis Mencari Selangkangan


“Sudah dua minggu saya menikahi Dewi Ayu, selama itu pula saya belum pernah tidur denganya”.


“Temanilah ia tidur Mas. Semenjak kalian menikah, ia selalau tidur sendiri di kamarnya” – Ucap ku pada suamiku yang sedang duduk bersila di halaman rumah sembari merokok dan membaca buku tebalnya.


“Iya, Dik. Malam ini Mas akan tidur dengan Dewi Ayu”.


Itu saja yang dikatakan suamiku, tak ada lagi percakapan antara kami setelah itu. Saya kembali ke ruang tamu, memandang lirih ke arah rak yang terisi penuh dengan buku menjulang sampai asbes. Dadaku terasa sangat sesak, namun anehnya air mataku tiada sedikitpun keluar padahal aku termasuk wanita 'baperan' yang sedikit-sedikit mewek, mudah sekali menangis dan curhat di sosial media seperti yang kalian baca. 

***

Dewi Ayu. Anak seorang juragan tuak di sudut kantor kadipaten adalah seorang maduku yang telah menikah dengan suamiku dua minggu lalu. Saya tidak ingat kapan tepatnya mereka menikah atau memang saya tidak mau tahu tentang pernikahan mereka berdua.


Dewi Ayu adalah wanita yang anggun, rambutnya hitam legam lurus panjang terurai, memiliki tinggi badan sekitar 179 Cm dengan berat badan 70 Kg yang membuatnya tampak cantik dan sangat seksi disokong payudaranya yang tampak besar dan membulat dari pakaian yang ia pakai, bola matanya bulat berbinar dengan warna mata biru yang ia dapatkan dari ibunya yang berasal dari Turki, alisnya hitam  tebal, bulu matanya tidak terlalu lentik, dan ia memiliki kulit yang mulus dan seputih susu.


Setiap lelaki yang melihatnya seolah terbius ramuan yang tak bisa dijelaskan, yang ia pikirkan hanya memperkosanya atau menikahinya. Jika berhasil memperkosanya, ia tidak perlu repot-repot mencurahkan cinta kepadanya, tapi jika ingin menidurinya setiap hari, maka ia harus menikahinya, entah dengan atau tanpa cinta.


Jika Dewi Ayu dilihat oleh para perawan, para perawan itu akan menghujat Tuhan kenapa tidak dilahirkan seperti dia. Jika yang melihatnya adalah para istri-istri tetangganya, ia banyak di cibir karena membuat para suami mereka dalam bersenggama selalu membayangkan sedang menyetubuhi Dewi Ayu. Padahal jelas, penis yang sedang keluar masuk vagina mereka adalah penis dari suaminya. Bahkan ada kabar beredar, vagina Dewi Ayu memancarkan cahaya yang sangat terang benderang membuat setiap lelaki yang berhasil melihatnya pingsan tak sadarkan diri.


Sementara diriku seperti wanita kebanyakan di negeri ini, tinggi 165 cm, memilki berat badan 56 Kg yang cukup membuat orang mengataiku gemuk dan tidak seksi. Jika saya pergi ke luar rumah untuk sebuah acara, saya harus memakai sepatu berjinjit agar tinggiku hampir menyamai suamiku, lebih tepatnya agar ia tak malu jika kawan-kawanya mengatainya memiliki istri yang pendek.


Dulu sebelum kita menikah, ia selalu memujiku jika aku adalah wanita yang baik, bersahaja dan salehah. Kita pertama kali bertemu saat saya menghadiri acara bedah buku di sebuah Café, saya tak sadar jika selama acara berlangsung ia memandangku dengan rasa penasaran untuk berkenalan. Beberapa waktu kemudian kita berdua kencan untuk pertama kalinya, pekerjaan utamanya menjadi sales pakan udang yang berkantor di jalan Ahmad Yani, dia juga memiliki usaha sampingan jual buku bekas, kalau pun ada yang baru itu hanya buku bajakan yang ia dapatkan dari Yogya.


Memasuki umur pernikahan yang ke delapan tahun, diriku yang dulu telah berubah, kata suamiku wajahku tidak secantik dulu. Pipiku sudah macam roti dorayaki nya doraemon, tidak se tirus dulu. Badanku sudah semacam gentong minyak curah di pasar tradisional, lipatan pada perutku sudah macam gas LPG 3 Kg. Selain itu suamiku juga merasa sekarang aku berubah menjadi istri yang sangat galak, dari bangun tidur sampai kembali ke peraduan saya banyak mengatur suamiku dengan SOP, tak heran dalam guyonanya ia berkata kalau aku lebih cocok untuk menjadi auditor saja. Meski keadaanku seperti demikian, kutahu cintanya padaku semakin dalam, terlebih saat kehadiran seorang putra yang sangat ganteng lahir dari rahimku. Motivasinya semakin bertambah untuk bekerja dan mencari sumber penghasilan lainnya, lelahnya terbayar lunas saat ia pulang kerja akan menjumpai putranya yang mirip sekali dengannya.


Hingga kehadiran seorang perempuan bernama Dewi Ayu, maduku yang tiba-tiba ada di rumah kami, aku pun tidak mengerti apa sebab alasannya suamiku tiba-tiba telah menikah dengannya. Sampai detik ini aku masih percaya jika ia hanya melaksanakan ajaran agama bernama Poligami. Sebagai seorang Muslimah yang sedari kecil belajar agama dari satu guru ke pondok yang lain, saya tentu mendukung apa yang suami saya lakukan meski dalam hati muncul perasan yang sangat berat dan tidak ikhlas. Atau, suamiku seperti lelaki di luar sana yang diliputi oleh nafsu birahi saat melihat Dewi Ayu. Atau jangan-jangan, sebelum ia menikah telah melakukan persetubuhan, apa jangan-jangan sebelum mereka menikah sudah ada jabang bayi di Rahim Dewi Ayu?


***


Malam itu, selepas dua minggu pernikahanya dengan maduku, ia benar-benar tidur dengan Dewi Ayu. Perasaanku benar-benar remuk, fikiranku membayangkan suatu hal yang selama ini tidak dapat saya bayangkan. Apakah Dewi Ayu benar-benar disetubuhi suamiku, apa suamiku benar-benar tega melakukan persenggamaan selain denganku? Sudah empat hari saya tidak menemuinya di ranjang, Anehnya saya tidak merasa marah sedikitpun, saya tidak boleh memiliki dendam ke suamiku bahkan maduku.


“Sepertinya lebih baik jika saya tidak tinggal di rumah ini selama beberapa minggu, mungkin satu bulan cukup”. – Batinku, saya tidak ingin menganggu suamiku dan Dewi Ayu menikmati masa indahnya, fase di mana saya dan suamiku sebut sebagai bulan madu yang tidak ingin diganggu oleh orang lain termasuk pekerjaan dan orang tua.


“Saya rasa satu minggu cukup untuk suamiku menikmati vaginanya Dewi Ayu. Konon setiap lelaki yang melihat membuat bumi berhenti pada porosnya. Atau semua kabar itu salah? jika benar mereka telah bersenggama, saya harusnya ikut merasakan bumi ini berhenti berputar. Tapi mengapa saya tidak merasakan hal itu? Kenapa yang saya rasakan hanya perasaan ini yang tercabik-cabik”.


Siang hari selepas saya menjemur baju, di hari keempat setelah suamiku tidur sekamar dengan Dewi Ayu, saya menemui suamiku untuk meminta ijin padanya agar dapat pulang, tinggal di rumah orangtuaku selama seminggu atau lebih dengan alasan aku sudah cukup lama tidak bertemu pun berkunjung ke rumah orangtuaku, aku kangeen ingin bertemu mereka. Suamiku memberiku ijin pulang dan tinggal di rumah orangtuaku sesuai permintaanku. Atas sikap suamiku ini cukup membuat perasaanku lebih baik, walau tetap saja suasana hatiku masih terasa hambar, tiada bermotivasi bahkan selera makanku yang selama ini cukup besar pun hilang sama sekali. Selama empat hari terakhir ini saya lupa apakah ada sesuap nasi yang sudah masuk di perutku atau tidak. Saya terlalu banyak membayangkan apa yang suamiku dan Dewi Ayu perbuat di dalam kamarnya.


Besoknya, aku pun bersiap berangkat bersama putraku menuju rumah orangtuaku yang tidak terlalu jauh. Dengan sekali naik bus dari depan rumah dan menikmati perjalanan pulang selama empat jam, bus antar provinsi yang kita tumpangi menghantarkanku ke kota yang terkenal hasil tangkapan lautnya. Suamiku tidak perlu repot-repot mengantar kita berdua ke sana.


Di tengah perjalanan ke rumah orangtuaku, tiba-tiba air mata menetes begitu deras, saya usap dengan selendang yang saya pergunakan untuk menggendong putraku. Airmataku turun semakin deras, dadaku semakin sesak diiringi pecah tangis yang membuat satu bus mengalihkan fokusnya ke saya.


Setelah tersadar dan cukup memiliki kekuatan, saya beranjak dari tempat duduk dan pergi ke belakang membuat kopi untuk suamiku. Novel tentang poligami itu saya tutup karena waktu sudah sore dan anak-anak belum mandi, suamiku yang sedari tadi di kandang sapi saya panggil untuk membantuku menyiapkan bahan masakan makan malam.


Kembali saya lirik novel itu dan hendak membacanya kembali. “Beruntung sekali saya memiliki suami yang setia dan tidak ada niatan berpoligami. Betapa sedihnya jadi tokoh utama dalam novel itu karena harus membagi cintanya ke perempuan lain”.  – Batinku.


Sekian terimakasih.
Ali Ahsan Al Haris
Malang, 18 April 2020.

No comments:

Post a Comment