Wednesday, June 24, 2020

Resensi Novel Lapar Karangan Knut Hamsun


Resensi Novel LAPAR Karangan Knut Hamsun

Judul                     : Lapar
Penulis                 : Knut Hamsun
Penerbit              : Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Cetakan               : 3 November 2019
Detail lain            : 284


Lapar karya Knut Humsun, seorang novelis Norwegia, peraih Hadiah Nobel Kesusastraan tahun 1920, mengisahkan tentang pergolakan jiwa tokoh ‘aku’ pada suatu musim gugur di kota Christiania-nama kota lama Oslo di Norwegia.


Saya Sedang Membaca Novel Lapar
Seperti yang sudah kalian baca di atas, saya mendapatkan buku ini cetakan ke tiga. Saat proses membaca, masih saya temukan beberapa typo bahkan ada halaman yang hilang. Saya kurang faham cetakan pertama harga bukunya berapa, yang jelas saya mendapatkan buku ini seharga 65,000.


Ada beberapa catatan selepas saya membaca novel ini, maaf jika saya tidak menulisya terlalu bagus dan terstruktur. Tapi sebagai bahan pertimbangan kawan-kawan yang belum membaca, saya juga tuliskan kembali prolog Marianne Katoppo selaku penerjemah buku ini.


Saya seperti membaca diary, membaca catatan harian, membaca tentang kisah manusia yang terbawa dan terjerumus rasa putus asa, susah dalam bertahan hidup tapi naas impian besar belum sampai.


Ini sangat menyentuh, Knut Hamsun membuat narasi potret kemiskinan. Seperti membasahi celana hitam yang ia pakai mencari kerja agar terlihat baru, menuju kolam tengah kota demi meneguk air di kolam taman dan cerita tentang rumah gadai.


Novel yang bercerita tentang tokoh AKU, hidup miskin yang mengandalkan hidupnya dari naskah yang ia tulis. Aktifitasnya sehari-hari hanya keliling kota, mencari ide apa yang akan ia tulis dan berharap naskah yang ia kirimkan diterima oleh redaksi.


Tokoh aku (Yang di yakini sebagai Knut Hamsun) beberapa hari hidup menggelandang dari emperan toko, taman dan hutan untuk tidur karena tidak memiliki uang menyewa Kostan. Dengan membawa selimut kusut berwarna hijau, malam demi malamnya ia lalui dengan kedinginan dan rasa lapar.


Ada beberapa kepingan cerita di mana rasa lapar dan dingin yang menyiksa itu perlahan sirna. Saat ia di datangi polisi karena lontang-lantung di jalan di kira gelandangan. Secara spontan ia mengaku memiliki tempat tinggal - padahal alamat yang ia sebutkan adalah alamat Kostan yang ia tidak bayar beberapa bulan - setibanya di rumah induk semangnya. Ia dengan hati-hati menuju kamarnya, perlahan ia menginjak anak tangga yang berjumlah delapan itu. Setibanya di dalam kamar, tampak sepucuk surat di atas meja, pertama ia mengira bahwa surat itu adalah surat balasan dari induk semangnya saat ia berpamitan untuk tidak tinggal kembali kamarnya. Ternyata nasib baik sedang ada padanya, surat yang ia terima adalah balasan dari redaktur sebuah koran yang tiga hari lalu ia kirimi naskah. Betapa senangnya ia saat tahu naskahnya akan di cetak dan ia berhak mendapatkan uang sepuluh crone, uang yang memang ekspetasikan.


Pada pertengahan cerita, saya membuat kesimpulan jika novel ini memang membahas tentang kisah seorang penulis berkarakter "AKU" yang hidup miskin dan kelaparan tapi tetap teguh memegang moralitas hidupnya dengan tidak mencuri dan mengemis. Yah meski dalam sisi ceritanya, tokoh AKU ini memang sempat meminta bantuan dari rumah ke rumah pun toko, meski usahanya mendapatkan makanan dan uang pinjaman itu gagal.


Jika saya ditanya pada bagian mana novel ini yang menyedihkan? Banyak, tapi salah satunya saat tokoh utama sedang demam dan kelaparan, ia lari ke pasar dan berniat meminta daging, tapi apa daya yang tersisa hanyalah tulang. Berkat dorongan rasa kelaparan yang tidak dapat di tolak itu, ia terima saja dan berlari kembali ke gudang. Ia makan dengan rakus, ia paksa makan daging mentah dan berbau anyir darah tersebut. Tapi naas, yang ia dapatkan malah muntah, daging yang ia makan harus keluar dari perutnya, termasuk air mata kesengsaraan atas nasib yang ia terima itu.


"KENYANG" itu biasanya dikaitkan dengan "senang", begitu pula dalam tradisi beberapa agama besar. Dewa kemakmuran Hindu dan Cina berperut besar; dalam salah satu Upanishad perempuan cantik itu hendaknya "berjalan bagaikan gajah"-karena gemuk!-dan dalam Kitab Suci Nabi Yesaya, misalnya, convivium, yaitu pesta pada akhir jaman ketika Tuhan "menelan maut dan menghapus semua air mata", adalah suatu santapan lezat (Yesaya 25) Dalam bahasa Ibrani pun, kata kabod (kemuliaan) ars sebenarnya adalah "berat". Kalau "kenyang" diasosiasikan dengan senang, "lapar" itu pada hakikatnya dilihat-bila ditempuh secara suka rela, seperti dalam hal puasa-sebagai suatu latihan rohani yang membantu manusia mengatasi angkara murka, mencapai suatu keadaan kesadaran yang berbeda (altered state of consciousness), turut mengabulkan suatu niat (bukankah itu makna puasa Senin-Kamis?); katakanlah, lebih mendekatkan diri pada Tuhan.


Apakah itu makna karya Knut Hamsun, Lapar, ini?


Kisah ini menceriterakan satu musim gugur di "Kristiania, kota yang aneh itu, yang tak meluputkan seorang pun tanpa meninggalkan bekas mendalam pada dirinya Musim gugur yang dilampaui sang pengarang muda yang berkobar-kobar cita-citanya (“Aku adalah pujangga! Sekali kelak orang akan menyanjungku di Norwegia! Dan hanya ingin hidup sebagai pengarang. Biar harus menahan lapar, sampai rambutnya rontok dan pusarnya berdarah; biar harus mengunyah keping-keping kayu dan mengemis tulang dari tukang daging "untuk anjingku". Biar harapan dan harga diri gugur satu demi satu).


Lapak Buku Saya, Jangan Lupa dikunjungi
Betapa bersalahnya rasanya tokoh Lapar ketika ia tergoda untuk menggadai selimut pinjaman dari seorang mahasiswa theologia. Betapa berat hatinya ketika tak sengaja ia menipu seorang pelayan toko. Akhirnya, apa artinya harga diri itu? Lapar begitu menyiksanya hingga ia sampai hati merebut kue-kue dagangan seorang nenek tua. Namun masih tetap disisihkannya satu kue untuk menghibur seorang anak kecil yang pernah menangis di bawah jendelanya karena dianiaya seorang laki-laki berjenggot merah. Setelah ditanggalkannya harga diri itu, ditinggalkannya kota itu, dilepaskannya cita-citanya dan ia berlayar pergi...


Dalam Lapar ini, ia berlayar ke Inggris, tetapi Knut Hamsun yang masih muda itu berlayar ke Amerika. Bukan cuma satu kali, tetapi dua kali. Tahun 1882 dan tahun 1886. Pengalaman yang dituangnya dalam Lapar itu bukan cuma pengalaman satu musim gugur saja, tetapi pengalaman belasan tahun. Betapa teganya orang muda itu! la tahu bahwa panggilannya adalah dunia sastra. Tetapi sel dan lamanya ia tak sanggup mendobrak masuk ke dalam dunia itu, dan sastrawan agung Bjornstjerne Bjornson malahan memberi nasihat padanya, "Jangan buang waktu menulis buku! Andaikan bertubuh tinggi kekar, lagipula rupawan lebih baik jadi pemain drama!"


Knut Hamsun terlahir sebagi Knut Pedersen, di Garmostraeet di Lom, Norwegia Teng, anak keempat dari pasangan Peder Pedersen dan Tora Olsen. Ayah yang lazim dipanggil Peder skredder, Peder Penjahit berasal dari keluarga orang sederhana, buruh harian Skultbakken. Sedangkan keluarga sang satu keluarga yang paling tua-lebih dari 900 tahun Gudbrandsdalen. Konon kabarnya cikal bakal keluarga itu tak lain dari Harald Haarfagre-Harald yang Berambut Elok yaitu raja pertama yang mempersatukan Norwegia. Ketika Knut berusia tiga tahun, seluruh keluarga, termasuk kakek, nenek, dan paman bungsu dari pihak ibu, pindah ke Hamaroy, pulau kecil yang letaknya masih lebih Utara dari Lingkaran Kutub, di pesisir laut Lofoten. Mereka menetap di suatu tempat pertalian kecil bernama ibu tergolong salah Hamsund. Di sinilah Knut hidup bahagia beserta keluarganya tercinta selama lima tahun. Adiknya masih bertambah dua orang perempuan dan satu laki-laki. Ayah mencari nafkah sebagai petani dan sekaligus penjahit, dengan modal suatu mesin jahit Singer yang pada waktu itu masih barang langka di pelosok Norwegia Utara ini. Selain itu seluruh keluarga harus membanting tulang seperti lazimnya kaum petani. Mereka miskin, tetapi sangat rukun. Ketika Knut berusia 9 tahun, tiba-tiba pamannya yang tertua dari pihak ibu, Hans Olsen, datang menagih utang. Peder dan Tora tak sanggup membayarnya, jadi Hans meng- ambil Knut sebagai sandera dan pembayar utang. "Bocan ini sangat bagus dan rapi tulisannya", pendapatnya, "la dapat membantuku di kantor pos!" Adapun Hans Olsen mengelola kantor pos di Hamaroy, selain menjabat seba- gai kepala perusahaan serta pemilik toko dan pertanian kecil. Hamaroy letaknya hanya 5 km dari Hamsund, tetapi bagi Knut jaraknya sama seperti neraka dan surga. Lima tahun ia terpaksa tinggal bersama pamannya, yang sangat kejam dan sama sekali tak ada pengertian bagi perasaan halus seorang anak. Dari pagi sampai malam ia dipaksa kerja keras: menulis daftar-daftar panjang di kantor pos, memotong kayu, mengantar surat. Tempeleng dan teguran bertubi-tubi, santapan dan kasih sayang sangat langka.


Di sinilah Knut pertama kalinya bertemu dengan roh Lapar itu. Tak dapat tiada kita kagumi bocah cilik ini, yang bertahan selama 5 tahun dari penganiayaan sang paman. Memang tahun-tahun itu turut menempa jiwanya, membuat akhlaknya kuat, tahan uji. Tegar menghadapi nasib yang tak terelakkan. Dua kali ia berupaya luput dari rumah paman: satu kali ketika disuruh potong kayu waktu petang, ia sengaja melesetkan kapaknya, memotong kakinya sendiri. Harapannya agar dikirim pulang ke mama.


Knut Hamsun - Sumber Wikipedia
Kedua kalinya, ia lari dari rumah paman pagi buta di tengah musim dingin. Kedua upayanya tidak berhasil. la tetap dipaksa tinggal di rumah paman. Pendidikannya kembang-kempis, Alb. Fr. Knudsen di Bodo. Dan terakhir, pada tahun dan penerbit yang sama, suatu novelet, Bjorger. Karya-karya ini membuat sang sastrawan muda agak dikenal di daerah itu, tetapi sang ayah menulis surat cemas untuk mengimbau Knut agar berusaha menjadi tukang sepatu yang baik, ketimbang pengarang yang susah carl nafkah. Tetapi Knut bersitegang, dan akhirnya sempat menggantikan kakaknya, Hans, kabupaten di Bo.


Bupati Nordahl termasuk orang yang terpelajar bagi menjadi pegawai orang daerah. Di rumahnya inilah untuk pertama kalinya Knut sempat membaca karya-karya para sastrawan Norwegia, antara seumur hidup menjadi pujaannya-dan Kristofer Janson, yang sekian tahun kemudian menjadi majikannya di Minneapolis. Selain itu dongeng-dongeng rakyat himpunan Asbjornsen dan Moo, serta karya-karya sastrawan Denmark dan Swedia turut membantu, seakan-akan suatu dunia baru terbuka baginya. lain Bjornstjeme Bjornson yang Kemudian, melalui jasa baik bupati dan pendeta, ia malah diangkat menjadi kepala sekolah di Ringstad, kendati anak didiknya seringkali hanya beda usia beberapa tahun dengannya. Lalu, pada musim semi tahun 1879, ia mendapat bantuan 1.000 kroner dari seorang usahawan kaya, Erasmus Benedicter Kjerschov Zahl, untuk berlayar ke Hardanger, dan bahkan ke Kopenhagen. Di jalan hidupnya, memang ia selalu berpapasan dengan orang yang terkesan olehnya dan rela membantunya. Tetapi sukses yang didambakannya masih tetan mengelak. Akhirnya ia terpaksa mencari nafkah sebacai buruh pembangunan jalan di Toten, kemudian sampai dua kali berlayar ke Amerika. Di sana ia sempat bekerja di kantor dan toko di Wisconsin, sebagai penginjil awam di Minnesota, sebagai peternak babi di Dakota Utara, sebagai kondektur trem di Chicago.


Petama kalinya ia kembali dari Amerika ialah karena kesehatannya rusak sama sekali, kata dokter ia segera akan mati karena kena penyakit TBC. Waktu itu rekan-rekan mengumpulkan uang baginya, untuk kembali ke Norwegia dan mati di sana. Malahan dia sembuh, dan berhasil menulis beberapa artikel, termasuk cerber. Di situlah pertama kalinya tercetak nama Knut Hamsun sebetulnya salah cetak dari pihak penerbit yang melupakan "d" pada ujungnya! Tetapi Hamsun sendiri membiarkannya, "barangkali memang lebih bagus begini," katanya.


Kedua kalinya di Amerika pun ternyata semua jalan buntu, walaupun ia mulai mendapat nama di kalangan orang-orang Norwegia di sana karena, sering memberi ceramah yang menarik. Musim panas 1888 ia terpaksa mengaku kalah lagi, dan pinjam uang untuk kembali ke tanah air tercinta.la naik kapal uap Denmark, Thingvalla, yang ber- layar dari New York ke Kopenhagen lewat Kristiania. Satu hari penuh kapal itu berlabuh di Kristiania. Knut mondar mandir di atas dek kapal. Dari situ hampir terlihat olehnya rumah di Tomtegatan 11, tempat dilaluinya musim dingin yang begitu perih itu. Bukan cuma pengalaman getir yang terkenang olehnya, tetapi juga semua orang baik yang begitu rela membantunya, kendati mereka sendiri sering tergolong orang yang kurang mampu. La ingin sekali pergi menengoknya. Tetapi ia sudah bersumpah ia takkan menjejakkan kaki lagi di Kristiania sebelum ia berhasil. la akan kembali sebagai pemenang, bukan pecundang. Konon, menurut anaknya, Tore Hamsun (dalam biografinya, Knut Hamsun, min far-Knut Hamsun, ayahku), pada saat itulah, ketika Knut Hamsun berdiri di atas dek kapal Thingvalla, memandang pelabuhan Kristiania dan melihat lampu-lampu mulai dipasang satu-satu menghias rumah-rumah di sekitar fjord yang permai itu-pada petang itulah ia duduk di atas bangku dan mulai menulis, "Semua ini terjadi ketika aku lapar di Kristiania.


Sepanjang penyeberangan ke Kopenhagen ia menulis. Sesampai di ibu kota Denmark itu, pusat budaya Benua Utara, ia mencari kamar yang murah ("dua minggu dengan makan malam, tiga minggu tanpa") dan menulis tanpa henti-hentinya. Lupa makan, lupa mandi, lupa segala-galanya. "Tanpa sadar ia meluncur masuk dalam keadaan pencerahan yang dapat diakibatkan oleh rasa lapar, suatu bentuk askese, dan dengan duka dan derita dihayatinya kembali seluruh bahan ceritanya sampai ke ujung syaraf yang terkecil pun" (Tore Hamsun, hlm. 101).


Selesai menulis, bagaimana menerbitkannya? Dua hari Knut Hamsun bolak-balik di muka rumah Geore Brandes, sastrawan Denmark yang tersohor itu. Tetapi Brandes tidak ke luar, dan Knut tak beranĂ­ masuk. Akhirnya, naskah yang dibungkus kertas koran itu, dibawanya kepada seseorang yang diharapkannya dapat mengantarnya secara tidak langsung kepada Georg Brandes. la pergi ke surat kabar ternama, Politiken, dan bertemu dengan Edvard Brandes, abang Georg, yang menjadi redaktur di situ.


Pertemuan mereka diceritakan oleh Edvard Brandes pada pengarang Swedia Axel Lundegard, yang bertamu malam itu. "Percaya atau tidak," tutur Brandes, "tadi siang di redaksi aku didatangi seorang Norwegia. Sudah jelas ia membawa naskah! Tetapi pada mulanya, bukan naskahnya, melainkan orangnya yang menarik perhatianku. Belum pernah kulihat seseorang yang begitu tidak terurus. Bukan saja pakaiannya yang lusuh dan kotor, tetapi wajah- nya! Anda tahu aku bukan orang yang sentimental. Tetapi wajah orang Norwegia itu membuatku terharu." Tadinya Brandes berniat menolak naskah itu secara halus, karena terlalu panjang untuk cerpen dan terlalu  pendek untuk cerber. Namun ketika tertangkap olehnya "perasaan yang berpijar dari balik kaca mata orang itu", ja tidak tega. la berjanji akan membaca tulisan itu dan mencatat nama dan alamat sang pengarang. Wajah yang pucat gemetar itu tetap membayang. Ketika Edvard Brandes pulang ke rumah, ia mulai membaca tulisan itu, dan segera terpesona. "Ini bukan bakat lagi, ini sederajat dengan Dostoyewski...!" Bukan cuma terpesona, tetapi malu, ketika disadarinya bahwa sang sastrawan barangkali sudah beberapa hari tidak makan. Brandes segera lari ke kantor pos dan mengirim uang sepuluh kroner pada pengarang muda itu. "Begitu mempesonakah kisahnya?" tanya Lundegard.


"Apa judulnya?"


"Sult (Lapar)"


"Siapa pengarangnya?"


"Knut Hamsun.


Sult diterbitkan secara anonim pada bulan November 1888 dalam majalah Ny Jord (Dunia Baru). Majalah ini tergolong majalah sastra yang paling berpengaruh di Benua Utara pada waktu itu. Kalangan sastrawan gempar. Semuanya mengaku bahwa gaya bahasa, penggunaan bahasa, penyajian cerita, sungguh menakjubkan. Suatu breakthrough, bukan saja bagi sastra Skandinavia, tetapi sastra dunia. Gaya bahasa Knut Hamsun menggambarkan stemning (suasana) yang dialami jiwa sang pelaku, bukan saja radikal berbeda dari arus realisme yang berlaku waktu itu. la adalah Sang Pemula arus sastra modern Eropa dan dunia. Tak dapat disangkal betapa besar pengaruhnye atas sastrawan-sastrawan agung seperti Maxim Gorki Stefan Zweig, Thomas Mann, Leon Feuchtwanger, William Faulkner, Ernest Hemingway, dan masih banyak lagi Pelukis tersohor Pablo Picasso pun merasa dipengaruhi oleh kebebasan jiwa Knut Hamsun. Isaac Bashevis Singer sendiri mengatakan bahwa Knut Hamsun mencanangkan suatu zaman baru bagi dunia sastra. Lapar itu berlaku di Kristiania, dasawarsa terakhir abad ke-19. Nama-nama jalan dan tempat-tempat dicantumkan dengan jelas, seakan-akan kita ikut dibawa berjalan oleh tokoh "aku" itu. Banyak di antara nama-nama itu masih tetap sama pada tahun 1993 ini, kendati Kristiania sendiri sudah ganti nama menjadi Oslo. Pada hakikatnya, pengalaman tokoh "aku" dalam Lapar ini dapat mencerminkan pengalaman barang siapa yang ingin hidup menurut keyakinan dan panggilan yang membakar hidupnya; barang siapa yang ingin hidup, bukan saja mencari nafkah sesuai ketentuan-ketentuan dan syarat-syarat yang hendak dipaksakan oleh masyarakat sekitarnya. Tokoh Lapar itu dapat hidup di Kristiania tahun 1879, atau di mana saja, tahun berapa saja. Apakah di New York, Berlin, Delhi, Seoul, Canberra, atau Jakarta, begitu banyak orang yang akan mengenal kembali dirinya dalam "aku" Lapar ini.


Ia adalah bagaikan "Aku" Chairil Anwar yang menyepak, menerjang, membawa luka dan bisa berlari, dan mau hidup seribu tahun lagi. Salah satu detail yang mengharukan dalam Lapar ia- lah ketika "aku" sempat mengagumi dan mendambakan bunga mawar merah yang dijual ibu-ibu di Stortorvet. "Bila aku sudah menerima uang memadai, aku akan membeli mawar merah itu", begitulah janjinya pada dirinya. "Bagaimanapun juga, aku dapat menghemat di sana-sini dalam cara hidupku, aku harus memiliki mawar itu!"


Kerinduan akan keindahan, bukankah itu turut memanusiakan manusia? Beberapa dasawarsa kemudian, para buruh perempuan di Lawrence, Massachusetts, berdemonstrasi menuntut haknya akan Bread and Roses (Roti dan Mawar). Dari situlah asalnya perayaan 8 Maret sebagai Hari Perempuan Internasional. Semua pembaca Knut Hamsun niscaya terkesan oleh semangat hidupnya yang luar biasa. Beruntunglah kita bahwa semangat hidup itu dimilikinya. Seandainya ia sebagai Thomas Chatterton, pujangga muda Inggris abad ke-18, yang bunuh diri pada usia 19 tahun karena sadar bahwa sastra dan seni takkan sanggup menafkahinya!


Pada tahun 1920 akhirnya Knut Hamsun mendapat Hadiah Nobel untuk kesusastraan, untuk karyanya Markens Grode (1917). Sebelum itu sudah berpuluh karyanya, antara lain Pan, Victoria, dan Mysteries, tersebar ke seluruh dunia. Penggemarnya terdapat di mana-mana. Tahun 1994, HUT keseratus penulisan Pan akan dirayakan di Paris. Dari tahun 1920 sampai akhir Perang Dunia Kedua, lebih dari dua juta eksemplar karya Hamsun terjual: angka tertinggi dari semua buku terbitan Gyldendals. Para pujangga agung Bjornson dan Ibse masing-masing hanya 135.000 dan 90.000. Sekarang, minat terhadap Knut Hamsun mulai banokit lagi di Norwegia. Lama nian ia tak disukai di negerinya sendiri. Hingga sekarang, tak ada satu pun jalan, taman atau lapangan di ibukota Norwegia ini yang menyandang namanya. Tak ada satu patung pun untuk menghormatinya.


Padahal siapa lagi yang membuat Kristiania yang kecil dan terpencil ini menjadi tersohor ke ujung dunia? Pasalnya, Knut Hamsun dianggap sebagai pengkhi- anat. la simpati pada Jerman, dan malahan mengirimkan medali Nobelnya kepada Goebbels! Memang bukan pada Goebbels pribadi, tetapi sebagai Ketua Kamar Sastra namun tentu saja tindakan seperti itu sangat mengejutkan. Istrinya sendiri berpendapat bahwa lebih baik medali itu dikirimnya ke Finlandia, seperti yang dilakukan oleh ke dua pemenang Hadiah Nobel Skandiniavia lainnya, Selma Lagerlof (Swedia), dan Sigrid Undset (Norwegia), untuk membantu negara itu dalam perjuangannya terhadap Rusia, tahun 1939.


Tore Hamsun merasa bahwa mungkin ayahnya tidak mau “membuntuti" kedua perempuan itu, yang memang telah dimusuhinya sejak suatu polemik sengit pada tahun 1915. Waktu itu Lagerlof dan Undset membela seorang perempuan petani yang membunuh bayinya karena miskin, sedangkan Hamsun berpendapat ibu durhaka begitu perlu digantung. Sebetulnya, Hamsun tidak pernah menjadi anggota partai Quisling yang pro Jerman, dan yang memerintah sewaktu Norwegia dijajah Jerman. Dan setiap kali ada orang Norwegia yang dijatuhkan hukuman mati oleh penjajah Jerman, Hamsun menulis surat atau telegram ke Hitler, Goebbels, dan Goring, untuk minta pengampunan, ia bahkan pergi menghadap Hitler di Berchtesgade untuk menghimbau agar Terboven penguasa tertinggi Jerman di Norwegia, dipecat. Pertemuan itu tidak berhasil, tetapi surat kabar memuat foto Hamsun dengan Hitler, dan citranya sebagai pro Jerman semakin kuat.


Seusai perang ia ditangkap. Mula-mula ditahan dan diperiksa di rumah sakit jiwa, dan kemudian diadili di Grimstadt. Akhirnya, Knut Hamsun diwajibkan membayar denda 325.000 kroner, tetapi tak dipenjarakan. Usianya pada waktu itu sudah 89 tahun, ia masih menulis satu buku lagi, Paa gengrodde Stier (Pada lorong-lorong tertutup), semacam catatan harian sejak hari pertama ia ditahan hingga jatuhnya vonis Mahkamah Agung. Gaya bahasanya masih tetap mempesona, ekspresi lirik dan rasa humomya pun tetap melimpah-limpah. Karya ini seakan-akan suatu usaha untuk membela  dendanya?


la meninggal 19 Februari 1952, tertidur tenang di rumahnya di Norbolm. Lebih dari 40 tahun kemudian, dirinya. Tetapi bukankah ia sudah diadili, dan membayar masih tetap ada orang Norwegia yang merasa tak dana "mengampuni" Knut Hamsun. Seperti diuraikan Thorkia Hansen dalam bukunya Prosessen mot Hamsun (Proses terhadap Hamsun), 1978, banyak hal yang sebetulnya tidak pernah dijelaskan atau diusut dengan saksama. Barangkali Norwegia butuh "kambing hitam" waktu itu? Di kamar tunggu Penerbit Gyldendals di Oslo ada satu patung dada Knut Hamsun. Tadinya akan ditempatkan di Grimstad, tempat ia bermukim sekitar empat dasawarsa terakhir hidupnya. Tetapi terlalu banyak protes dari ba- nyak pihak membatalkan niat itu.


Barangkali monumen peringatan bagi Knut Hamsun terdapat dalam hati setiap orang yang mengagumi dan menghayati tulisan-tulisannya. Memperhatikan masyarakat masa kini, yang semakin menjurus pada global village, dengan sistem nilai yang makin mirip laporan akuntan, tentunya kita dapat bertanya bagaimana kiranya pendapat Hamsun mengenai banyak hal.


Misalnya, kelestarian lingkungan, yang sangat berarti baginya. Bagaimana pendapatnya mengenai perburuan Ikan paus, yang sudah diprotes oleh seluruh dunia, tetapi masih saja dipertahankan Norwegia? Fakta sudah menunjukkan bahwa sudah banyak sumber energi, gizi, dan protein alternatif, hingga tak perlu lagi memburu biinatang yang semakin langka itu. Pembantaian binatang itu juga biasanya dilakukan dengan cara yang sangat sadis, suatu pertumpahan darah yang lebih menyerupai ritus primitif daripada pencarian nafkah. Bagaimana kiranya pendapat Hamsun, "pengkhianat", mengenai hal ini? Barangkali tokoh "aku" Lapar masih tetap mengembara di lorong-lorong Kristiania. Sia-sia mencari apa yang paling didambakannya.


Ali Ahsan Al Haris
Malang, 24 Juni 2020

No comments:

Post a Comment