Di sudut kampung yang kental dengan budaya Jawa, hidup seorang lelaki bernama Darmo, ia hidup harmonis dengan istri dan ketiga anaknya. Darmo berprofesi sebagai tukang mebel. Ekonomi keluarganya cukup mapan karena sering ekspor ke Eropa. Tak hanya dikenal karena keterampilan tangannya, Darmo juga dikenal sebagai orang yang sangat taat pada ajaran dan budaya Jawa. Langkah dan tutur katanya sangat sopan, membuat orang yang pertama kali mengenalnya terkagum-kagum. Sopan, murah senyum, pakaian yang ia kenakan sederhana dan guyub dengan masyarakat sekitar.
Namun dalam hati Darmo, ia merasa dirinya lebih dari sekadar tukang ukir. Ia merasa darah kebangsawanan mengalir dalam tubuhnya, meski ia sendiri tidak pernah tahu dari mana perasaan itu muncul.
"Perawa’an iki cocok dari rojo Jowo," gumamnya setiap kali bercermin.





