Friday, December 11, 2020

Review The Hen Who Dreamed She Could Fly


Novel yang saya baca ini masuk dalam International Bestseller yang terjual lebih dari dua juta eksemplar. Termasuk dalam genre Fabel, yakni cerita yang menceritakan kehidupan binatang, namun memiliki perilaku layaknya manusia. Fabel termasuk ke dalam kategori sastra berbentuk fiksi atau khayalan.

Pada umumnya, novel Fabel banyak dibaca anak-anak atau para orangtua yang membacakan buku ke anak-anaknya. Sebelum saya tulis untuk mengenal siapa penulis novel ciamik ini. Bagiku sangat penting saya tuliskan kembali pendapat Kim Seo Jeong (Kritikus Sastra Anak).

Cerita Tentang Ayam Betina Yang Menyimpan dan Mewujudkan Keinginannya

Ada tiga jenis ayam betina dalam buku The Hen Who Dreamed She Could Fly. Yang pertama adalah ayam betina tanpa pikir panjang yang hanya makan dengan kenyang walaupun harus terkunci di dalam kandang kawat tanpa bisa mengerami telurnya sendiri. Yang satu lagi adalah ayam betina yang hidup di halaman dengan ayam jantan dan anak-anak ayam. la bisa hidup dengan penuh kepuasan, tapi ia selalu ketakutan seseorang akan ikut campur dan menghancurkan kesehariannya. Yang terakhir adalah ayam betina yang menyimpan keinginan untuk mengerami telur dan menyaksikan kelahiran anak ayam, sampai akhirnya ia bisa mewujudkan keinginan itu. Di antara banyaknya ayam, Daun adalah satu-satunya ayam yang masuk jenis ketiga. Ia adalah tokoh utama dalam cerita ini.

Siapa Hwang Sun-mi?

Kok ya bisa bikin cerita sederhana, tapi plotnya sempurna untuk membuat kita tidak berhenti membalik satu halaman demi satu halaman dengan penuh perasaan? 

Hwang Sun-mi di masa kecilnya adalah seorang anak yang kondisi jantungnya sangat buruk dan hidup dalam kemiskinan. Kurus kering dan tidak bisa mewujudkan cita-citanya menjadi seorang tentara. Salah satu kekuatannya adalah dengan bermimpi dan berusaha mewujudkannya. Itu yang ia berusaha hadirkan dalam diri novel ini.

Baca tulisan saya yang lain: Lelaki Malang, Kenapa Lagi?

Hwang Sun-mi lahir tahun 1963 sebagai anak ke-2 dari 5 bersaudara. Ide cerita novel ini berasal dari kehidupan ayahnya yang seorang petani yang hidup dalam keterbatasan. Sun-mi sempat tidak melanjutkan sekolah menengahnya karena kemiskinan. 

Ia baru masuk SMA melalui ujian persamaan dan lulus dari Creative Writing Departments di Seoul Institute of Arts dan Gwangju University. Juga graduate school di Chung-Ang University. 

Memulai karirnya sebagai penulis sejak tahun 1995 dan telah menghasilkan 30 buku. Ia juga tercatat sebagai Adjunct profesor di Fakultas of Literature di Seoul Institut of Arts. 

Novel ini adalah sebuah fabel yang dibuat tahun 2000 di Korea. Telah terjual sebanyak 2 juta kopi dan diterjemahkan ke dalam 27 bahasa. Novel ini juga sudah diadaptasi menjadi film animasi. Mengikuti larisnya si novel, hanya dalam 4 minggu, film ini telah ditonton oleh 2,2 juta orang. Mantap juga ya.

Aku Takkan Bertelur

Kisah dimulai dari seekor ayam betina yang berada di dalam kandang. Atau, lebih tepatnya ia dan banyak ayam betina lainnya berada dalam sebuah peternakan ayam petelur. Setiap pagi majikannya menghampiri kandang demi kandang untuk mengambil telur, termasuk ayam betina ini yang kian hari produktifitas bertelurnya semakin menurun. Rutinitas yang dilakukan majikannya itu membuatnya berikrar untuk tidak lagi bertelur, ia merasa sangat sedih karena tak pernah mengerami telur dan melihat anaknya menetas. 

Baca Tulisan Saya Yang Lain: Cinta Lama - Puthut EA

Kandangnya yg terletak di depan pintu masuk peternakan membuatnya dapat melihat halaman luar dari peternakan. Ia dapat melihat anjing tua milik juragan peternakan, bebek dengan anak-anaknya yang sering berjalan mengular, ayam, bebek dan sesekali melihat manusia saling beradu mulut. Dari pemandangan tersebut, yang menarik perhatiannya selain menginginkan kehidupan normal seperti ayam yang ia lihat setiap pagi di halaman depan adalah pohon akasia. Tumbuh besar dengan tangkai yang kokoh dan bunga cantik dan sesekali daun yang jatuh berguguran. Karena kekagumannya dengan pohon akasia itulah, ia menamai dirinya sendiri dengan nama, Daun.

Sudah tiga hari Daun tidak bertelur. Badannya kaku dan tak dapat banyak bergerak. Seingatnya, telur yang ia keluarkan lebih kecil dari biasanya dengan cangkang lembek. Saat pagi hari kunjungan rutin dari majikan pria, telurnya Daun dilempar begitu saja ke depan kandang dan menjadikan santapan empuk si anjing tua. Hal tersebut membuat Daun semakin sedih dan memperkuat keinginannya untuk tidak bertelur lagi.

Badannya sudah semakin nelangsa, makanan yang juragan sajikan tak banyak Daun makan. Ia merasa sudah mati padahal hanya mengalami pingsan berulang kali. Tepat pada hari ketujuh, majikan pria mencengkram kuat kedua sayapnya dan melemparkannya ke dalam bak bersama tumpukan ayam lainnya yang mengalami nasib sama seperti dirinya. Lemah, tua dan mati.

Keluar Dari Kandang Ayam

Malam hari ia tiba-tiba terbangun dan kedinginan. Ia kira dirinya sudah mati, setengah sadar ia mendengarkan suara menyuruhnya segera terbang agar tidak menjadi mangsa. Suara itu makin kencang dan terus berulang, dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. Ia mampu keluar dari sebuah lubang yang akhirnya ia tahu adalah tempat pembuangan ayam yang sudah mati dari peternakan.

Baca Tulisan Saya Yang Lain: Negeri Para Bedebah

Kini ia tahu sumber suara yang meneriakinya dari lubang pembantaian. Jika ia telat sedikit saja, tubuhnya sudah menjadi makan malam seekor Musang yang sedari tadi mengintai dari balik rimbun ilalang. Kini ia memiliki teman baru, seekor bebek berleher hijau. Teman yang menyelamatkannya dari maut.

Kawan Baru, Awal si Juru Selamat

Bebek berleher hijau ini adalah awal bagaimana Daun menggapai apa yang selama ini ia cita-citakan. Si Bebek pengelana, begitu Daun memanggilnya. Seekor bebek yang bisa terbang, berbeda dengan bebek rumahan pada umumnya. Daun sangat menghormatinya karena telah menyelamatkannya dari Musang pemburu, mengenalkannya dengan keluarga halaman meski akhirya mereka berdua harus terusir karena ulah ayam jantan yang tak menerimanya. Kesehaian Daun hanya mengikuti Bebek pengelana ke danau dekat peternakan, di sana ia mencari makan dan memulai hidup menjadi pengembara.

Anakku Bukan Anakku

Daun yang lama berada didalam kandang ayam ingin mengerami telur dan melihatnya menetas akhirnya kesampaian. Kejadiannya bermula saat Daun terusir dari kandang halaman dan memilih hidup mengembara di sekitar danau. Semak belukar di sekitar danau yang awalnya menjadi tempat untuk berteduh dan mencari makan berubah tidak aman karena menjadi lokasi para bebek termasuk Bebek Pengelana berleher hijau beraktifitas. Namun, hal tersebut malah membuat Daun semakin mengenal lebih dekat ke Bebek Pengelana. Daun banyak mendapatkan nasihat bagaimana bertahan hidup di alam liar, terutama cara melawan si Musang pemburu yang tiba-tiba muncul menyergap.

Baca Juga: Politik Luar Negeri Di Bawah Soeharto


Karena kondisi di tepi danau membuatnya tidak nyaman, kini ia beralih ke hutan bambu. Tampak dedaunan rontok, pohon tumbang dan semak belukar yang tinggi membuat ia percaya jika Musang pemburu tidak dapat menemukannya. Beberapa hari berada di dalam hutan, ia sering mendengar Bebek Pengelanan mondar-mandir di dekat sarangnya. Dan, tiba-tiba saja Bebek Pengelana berteriak sangat kencang, Daun merasa ketakutan karena mengira Bebek Pengelana telah menjadi santapan makan malam Musang pemburu. Ia sangat merasa sedih, Daun belum sempat berterimakasih kepadanya atas kejadian di lubang kematian dulu. Karena rasa ketakutannya itu, ia semakin masuk ke semak belukar, tak di sangka ia malah menemukan sebuah telur, cangkangnya masih hangat, terasa jika telur yang ia temukan adalah telur baru. Merasa iba dan didorong keingannya dulu saat masih dikandang untuk mengerami telur sampai menetas. Daun akhirnya mengerami telur tersebut, kini ia sangat bahagia. Keinginan menjadi sosok ibu bagi anak-anaknya mulai tercapai.

Saat mengerami telur, Bebek pengelana sering mondar mandir di sekitar sarangnya. Daun merasa terganggu dengan kondisi tersebut. Terlebih kondisinya yang sedang mengerami telur, Daun takut kebisingan yang dibuat Bebek Pengelana membuat tumbuh kembang anaknya terganggu.

Hari berganti, ancaman Musang si pemburu juga tiada henti. Musim silih berganti, salju mulai mencair. Si anak dalam telur sudah menampakkan tanda ingin menyapa dunia. Dan kini ia benar-benar telah lahir. Tapi bukan sebagai anak ayam, melainkan sebagai anak bebek. Selama ini Daun telah mengerami telur bebek, ia baru tersadar jika telur yang selama ini ia erami adalah miliki Bebek Pengelana, pantas selama ia mengerami telur si Bebek Pengelana selalu mondar-mandir dari danau ke tempat Daun mengerami telur.

Sahabat Sejati Telah Pergi

Bebek pengelana mati, ia menjadi santapan makan malam Musang pemburu. Rasa bersalah selalu menghinggapi Daun, ia sadar jika anak bebek yang mengikutinya ini adalah anak dari Bebek Pengelana. Namun rasa bersalah itu kian hilang ditelan waktu saat melihat anaknya tumbuh dewasa, bahkan kini ia dapat terbang.

Baca Juga: Dunia Sophie

Puncak Dari Pencapaian Adalah Kematian

Keinginannya untuk keluar dari kandang dan berteduh di bawah pohon akasia sudah tercapai, berkumpul dengan para ayam dan bebek yang tergabung dalam keluarga halaman pernah ia rasakan meski tak lama. Mimpi untuk mengerami telur dan melihat anaknya menetas juga paripurna. Terlebih dapat mendampingi anaknya tumbuh kembang dewasa dan menemukan keluarga baru. Kini Daun semakin menua, badannya sudah tak selincah dulu saat lolos dari lubang kematian. Kerinduannya ke Bebek Pengelana menjadi penutup cerita. Ia tawas menjadi santapan Musang pemburu mata satu.

Terimakasih

Malang, 11 Desember 2020

Ali Ahsan Al Haris


No comments:

Post a Comment