Wednesday, March 29, 2023

Drama Bahagia

Drama Bahagia/Ali Ahsan Al Haris/2023


“Awak dewe neng kene isok guya-guyo. PR-e awak dewe gowo rasa bahagia seng saiki dirasake ke keluarga neng omah”, ucap salah satu rekan saya di tengah-tengah obrolan, anggap saja namanya Karjo.

Begini, di antara kita tentu memiliki aktivitas di luar rumah. Mulai dari urusan pekerjaan, silaturahmi, moloekatan bahkan padu. Di dalam aktifitas yang kita jalani khususnya ngobrol, sebagian orang atau bahkan diri kita sendiri merasa lepas. Lepas yang saya maksudkan adalah rasa bahagianya berlimpah ruah daripada saat di rumah dengan keluarga. Kita seolah bebas mau bertindak dan berucap apa saja, merasa sefrekuensi dengan rekan-rekan kita di tongkrongan dan menganggap merekalah yang bisa mengerti diri kita.


Kita seolah menjadi orang lain saat di luar rumah. Menjadi lebih bahagia, lepas dan terkadang tak terkontrol. Rumah dan keluarga seolah menjadi benteng, perasaan bahagia kita tetiba hilang. Tembok rumah menjadikan kita pribadi yang pendiam, pemarah dan seolah tidak ada yang mengerti perasaan kita sehingga sehari-hari di dalam rumah hanyalah kepura-puraan belaka. Pura-pura bahagia di depan pasangan, pura-pura menjadi anak yang alim di mata kedua orang tua kita dan berdrama menjadi lakon Ayah yang baik bagi anak-anak kita.

Celetukan si Karjo menjadikanku berfikir, “Ini bukan sembarang guyonan. Bisa saja dia sengaja berkelakar seperti itu karena ingin menyindir salah satu dari rekan ngobrolnya. Atau jangan-jangan yang Karjo maksudkan adalah kita semua?” batinku.


***

Saya memperhatikan reaksi dari teman-teman yang sedang ngobrol bersama saya. Sebagian dari mereka tampak setuju dengan ucapan Karjo, sementara yang lain menganggapnya sebagai lelucon belaka. Namun, dalam benak saya, ada benarnya juga ucapan Karjo.

Jujur saya sendiri seringkali merasakan hal yang sama. Di luar rumah, saya bisa berbicara dengan bebas tanpa harus memikirkan apa kata keluarga saya tentang ucapan saya. Namun, di dalam rumah, saya menjadi lebih hati-hati karena takut membuat keluarga saya tidak nyaman. Hayo ngaku kabeh, iyo kan!


Namun, seiring waktu berjalan, saya mulai menyadari bahwa keluarga saya adalah orang-orang yang paling mengerti, terutama istri saya. Ia selalu ada untuk mendengarkan curhatan saya, memberikan dukungan, dan memberikan kritik yang membangun. Meskipun kadang-kadang istri saya tidak sepenuhnya mengerti apa yang saya rasakan, tetapi ia selalu berusaha untuk memahami.

Ucapan Karjo menjadi trigger untuk saya belajar menjadi lebih terbuka dengan keluarga dan tidak lagi pura-pura bahagia di depan mereka. Terutama ke istri, saya sering memintanya untuk memahami bahwa saya juga manusia yang memiliki emosi dan perasaan yang kadang-kadang tidak bisa saya kontrol.


Ketika Karjo melontarkan celetukan tersebut, saya tersenyum dan berpikir bahwa mungkin dia juga mengalami hal yang sama. Wkwkwkwk. Namun, saya memilih untuk tidak menganggapnya terlalu serius dan justru menikmati momen yang saya miliki bersama keluarga saya. Karena pada akhirnya, keluarga adalah yang terpenting dalam hidup saya.

Suatu hari, saat saya sedang bersama keluarga, tiba-tiba Karjo datang ke rumah dan bergabung dengan kami. Saya merasa sedikit canggung, karena selama ini saya lebih terbiasa bertindak dan berbicara secara bebas di luar rumah. Saya khawatir Karjo akan menganggap saya aneh atau bahkan tidak bisa bergaul dengan keluarga saya. Hahaha


Namun, ketika Karjo bergabung dengan kami, saya merasa ia justru semakin bersahabat dan ramah. Dia dengan mudah mengobrol dan mencairkan suasana, sehingga keluarga saya pun merasa nyaman dan bahagia.

Ketika Karjo pulang, saya merasa ada yang berbeda. Saya merasa terdorong untuk selalu menunjukkan diri saya yang terbaik di depan Karjo, bahkan ketika sedang bersama keluarga. Saya merasa tidak lagi merasa bebas dan cenderung khawatir tentang apa yang Karjo pikirkan tentang saya.

Setelah beberapa waktu berlalu, saya memutuskan untuk berbicara dengan Karjo. Saya menjelaskan bagaimana perasaan saya dan bagaimana ucapan dia tentang bahagia di luar rumah dan tidak bahagia di rumah membuat saya kepikiran.


Akhirnya, saya menyadari bahwa saya tidak perlu menjadi orang lain di luar rumah atau di depan teman-teman saya. Saya belajar untuk menjadi lebih jujur ​​dengan diri saya sendiri dan orang-orang di sekitar saya. Saya juga belajar untuk menerima diri saya apa adanya dan tidak lagi khawatir tentang bagaimana orang lain memandang saya.

Dengan begitu, kepikiran yang selama ini perihal drama bahagia diluar dan di dalam rumah terjawab. Saya juga belajar untuk menikmati momen bersama keluarga saya tanpa merasa tertekan oleh ekspektasi orang lain.

Baca serial tulisan Ramadhan 2023 di sini

No comments:

Post a Comment