Friday, April 7, 2023

Suamiku Meninggal Tepat Setelah Aku Naik Jabatan

Suamiku Meninggal Tepat Setelah Aku Naik Jabatan/Ali Ahsan Al Haris.
Gambar Hanya Ilustrasi, Sumber Gambar: pasjabar.com


Ia adalah dokter Gigi di salah satu Puskesmas di Malang. Suaminya meninggal tepat setelah ia serah terima jabatan menjadi Kepala Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas).

Sebut saja namanya dokter Dewi. Sejak menjadi PNS, ia beberapa kali berpindah pindah Puskesmas. Saya juga baru tahu jika hal itu bisa terjadi asalkan tetap di dalam satu wilayah kerja (Kab/Kota) dan di Puskesmas yang ia tuju memang sedang membutuhkan dokter gigi. Jadi, tidak perlu menunggu 10 tahun lebih pengabdian untuk mutasi ke tempat lain.

Sejak 2019 ia berdinas di Puskesmas yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahnya. Ia sangat senang lantaran di pagi hari masih memiliki cukup waktu "ngrumat kedua anaknya". Suaminya pulang seminggu sekali lantaran bekerja di luar kota. Dalam beberapa kesempatan, jadwal pulang bisa sebulan hanya sekali karena begitu padatnya pekerjaan. Alasan itu yang kemudian menjadikannya rela berpindah-pindah Puskesmas asal dekat dengan rumahnya.

Pada suatu kesempatan, dokter Dewi pernah berkata ke salah satu perawat jika ia tidak mengejar karir. Apa yang ia terima sekarang sudah sangat cukup baginya. Dekat dengan rumah, tidak banyak beban pekerjaan manajerial dan bisa mendampingi kedua anaknya belajar adalah kenikmatan yang luar biasa.


Sudah mafhum kita ketahui jika Kepala Puskesmas rata-rata dijabat oleh dokter. Meski ada change jabatan itu diisi oleh orang Kesma, Perawat bahkan Bidan. Namun, rasanya kok jarang sekali hal itu terjadi. Rata-rata Kapus dijabat oleh para dokter dengan pelbagai syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi dan dilengkapinya.

Akhir tahun 2022, ada beberapa Kapus (Kepala Puskesmas) di Malang yang akan pensiun. Nama dokter Dewi masuk dalam kandidat Bakapus (Bakal Kepala Puskesmas) yang diusulkan Kadis Kesehatan Malang ke Pak Bupati. Makin hari kabar ini semakin kencang, beberapa orang berspekulasi bahwa dokter Dewi pasti bakal jadi Kapus. Masalah mau ditempatkan dimana ini yang bakalan menarik. Mengapa? Sudah menjadi rahasia umum jika Kapus yang umurnya masih muda atau pertama kali menjabat akan ditempatkan di daerah pelosok. Menjelang pensiun, ia akan dipindah ke Puskesmas yang jaraknya paling dekat dari rumahnya. Meski aktualnya, jaraknya masih lumayan jauh dari rumah.


Mendengar namanya masuk bursa Kapus, dokter Dewi menanggapi jika ia tidak berminat. Ia sudah senang dengan posisinya sekarang.

Surat tugas turun. ia menerima surat dari Dinkes Malang yang memberitahukan bahwa per April 2023 ia resmi diangkat menjadi Kapus. Ia bingung, antara senang dan sedih.


Di sisi lain, ayah dari dokter Dewi harus menyewa jasa seorang sopir untuk ikut menjemput suaminya yang sudah seminggu sakit di luar kota. Suaminya mengeluh sakit kepala yang tak berkesudahan. Hasil laboratorium menjelaskan bahwa suaminya terkena darah tinggi, diabetes dan terdapat sumbatan di pembuluh darah otaknya. Mengetahui hal itu, dokter Dewi memaksa suaminya pulang untuk rawat inap di Malang daripada harus di kota tempatnya bekerja.

Mereka berdua terbilang pasangan yang masih muda, dokter Dewi memasuki umur 41 dan suaminya berumur 46. Dalam beberapa kesempatan ngobrol dengannya, ia selalu menyebut bahwa suaminya adalah sebenar-benarnya tulang punggung. Sudah lama suaminya ingin agar dokter Dewi berhenti bekerja saja dan fokus di rumah.


Senin (3/4), ia datang ke Puskesmas untuk operan dengan perawat gigi yang selama ini membantunya bekerja dan menghadap ke Kapus untuk mengkoordinasikan beberapa hal yang diantaranya rekomendasi untuk segera mencari dokter Gigi baru, meski masih ada perawat gigi, hal itu di luar kompetensinya. Ia juga mengucapkan terima kasih ke rekan-rekan yang sudah mendoakan dan menjenguk suaminya yang baru pulang dari Rumah Sakit.

Selasa (4/4) para dokter, perawat, bidan senior, KTU dan Kepala Program mengantarkan dokter Dewi ke Puskesmas baru tempat ia akan bertugas. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia yang terpancar dari wajahnya. Di hari yang spesial itu, kondisi suaminya sudah jauh membaik dan dapat beraktivitas sendiri. Belum lagi, kehadiran rekan-rekannya yang ikut membersamainya dalam serah terima jabatan di Puskesmas yang baru menambah support system dalam diri dokter Dewi. Puskesmas barunya ini dapat dibilang berada di kaki gunung, banyaknya kontur jalan yang berkelok seperti menceritakan kembali lika-liku perjalanan dokter Dewi. Saat rombongan hendak pulang, dokter Dewi menangis tidak mau ditinggal. Ia sangat sedih kebersamaan dengan rekan-rekannya yang dulu harus purna saat itu juga. Tak lama kemudian, ia mengucapkan banyak terima kasih dan undur diri di WAG.


Sore harinya, belum genap para Nakes mengucapkan selamat dan doa agar senantiasa diberikan kelancaran di tempat tugas yang baru. Rapalan doa kembali dimohonkan untuk kesembuhan dan keselamatan suami dokter Dewi yang sore itu kembali dirawat ke Rumah Sakit.

Rabu (5/4) siang, anggota WAG kembali merapalkan doa atas meninggalnya suami dari dokter Dewi. Banyak orang yang kaget dan tidak percaya. Selesai jam layanan, rekan kerja dokter Dewi berbondong-bondong ke rumah duka. Sesampainya di lokasi, rombongan disambut oleh keluarga sedangkan dokter Dewi sendiri masih di rumah sakit menunggu jenazah suaminya dibawa ke rumah duka.


Menurut penuturan keluarga, saat dokter Dewi masuk rumah sudah mendapati suaminya tergeletak di lantai mendengkur dan tampak juga bekas muntahan di sekelilingnya. Ia kemudian ke luar pagar teriak meminta tolong seraya menangis. Beruntung ada Pamdal dan warga yang langsung sigap membawa suaminya ke rumah sakit.

***

Mendengar cerita itu, sontak saya mikir kira-kira kelak, Allah memberikan jalan kematian seperti apa kepada saya! Jika saya adalah dokter Dewi dan Allah memberikan pilihan "Kepala Puskesmas atau Suamimu", tentu saya akan memilih yang kedua.

Kita tidak bisa memilih akhir kisah bahagia seperti di novel The Time Traveler's Wife karya Audrey Niffenegger atau Cinta di Ujung Sajadah karya Asma Nadia. Yang kita punya hanya permohonan doa agar Allah SWT senantiasa membimbing kita dalam jalan yang lurus; bukan jalan yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang tersesat.

Baca serial tulisan Ramadhan 2023 di sini

No comments:

Post a Comment